29 Oktober 2010

Galunggung

GALUNGGUNG, Jawa Barat



Keterangan Umum

Nama

:

G. Galunggung

Nama Lain

:

-

Nama Kawah

:

Galunggung

Lokasi

:

Koordinat/ Geografi : 7° 15'LS dan 108°03' BT . Secara administratif termasuk :Priangan Tatar Sunda, Kabupaten Tasikmalaya dan Garut.

Ketinggian

:

2168 m. dml (di atas muka laut) atau 1820 m diatas dataran Tasikmalaya.

Kota Terdekat

:

Tasikmalaya

Tipe Gunungapi

:

Strato

Pendahuluan

Cara Pencapaian

Dapat dicapai dari Tasikmalaya menuju Indihiang atau Singaparna kearah Cipanas kemudian ke Cibukur. Pencapaian dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor (roda 4), dengan waktu tempuh ±45 menit. Untuk mencapai puncak/kawah dapat menggunakan tangga permanen yang tersedia, dengan waktu tempuh ±15 menit.

Demografi

Bagian barat tubuh gunung api termasuk Kabupaten Garut sedangkan bagian timur termasuk Kabupaten Tasikmalaya. Wilayah Kabupaten Garut lebih didominasi oleh tutupan lahan berupa hutan dan perkebunan, sedangkan wilayah Kabupaten Tasikmalaya lebih merupakan daerah pemukiman. Bagian gunung api Galunggung yang termasuk Kabupaten Garut, berada dalam wilayah Kecamatan Singaparna. Kabupaten Tasikmalaya, terdiri atas Kecamatan Leuwisari yang memiliki 5 (lima) desa dan Kecamatan Indihiang yang memiliki 8 (delapan) desa.

Jumlah penduduk di sekitar Gunung Galunggung sebesar ± 1.5 juta dengan laju pertumbuhan pada 1991 s/d 2001 sebesar 0,76% yang sebagian besar menempati lereng bagian tenggara-selatan dengan mata pencaharian utamanya sebagai petani.

Daerah pertanian atau perkebunan mencangkup luas 54,8% (1991) dengan laju pertumbuhan 0,059%. Daerah persawahan mencangkup 21% yang terdiri atas sawah teknis (beririgasi permanen) dengan luas tiga (3) kali sawah non-teknis, dan sawah non-teknis. Laju pertumbuhan pada tahun 1986 s/d 1991; sawah teknis 1,796% dan sawah non-teknis 0,188%.

Daerah hutan terdiri atas hutan produksi dan hutan cadangan yang berfungsi sebagai hutan lindung, mencangkup luas 38,05%. Luas hutan produksi mencapai ±3.953 Ha dan hutan cadangan ±2800 Ha.

Inventarisasi Sumber Daya Gunungapi

Sumber daya yang dapat digali atau dimanfaatkan berupa sumber daya lingkungan dan bahan galian industri. Sumber daya lingkungan berupa potensi wisata gunung api yang terdiri atas danau kawah, mata air panas Cipanas, serta di Cibanjaran dan Cikuar sebagai sarana pemandian dan rekreasi. Sumber daya bahan galian berupa batu belah dan pasir yang berasal dari endapan lahar dan awan panas.


Acuan :

· Kusumadinata. K. dkk, 1979, Data Dasar Gunungapi Indonesia, Direktorat Vulkanologi, Bandung.Bacharudin. R. dkk, 1995, Pemetaan Zona Resiko Bahaya Gunungapi Galunggung, Direktorat Vulkanologi, Jawa Barat.

· Kusumadinata. K. dkk, 1979, Data Dasar Gunung Api Indonesia, Direktorat Vulkanologi.

· Bacharudin. R. dkk, 1995, Pemetaan Zona Resiko Bahaya Gunungapi Galunggung, Direktorat Vulkanologi.

· Bacharudin. R. dkk, 1995, Pemetaan Zona Resiko Bahaya Gunungapi Galunggung, Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Bronto. S, Hartono. G, 1996, Pengembangan Wisata di Kawasan Gunungapi Galunggung, Kab. Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat.

SEJARAH LETUSAN


Kelompok batuan Gunung Galunggung terbagi dalam 3 (tiga) formasi, yaitu:

1. Formasi Galunggung Tua, yang merupakan periode pembentukan gunung api strato Galunggung tua.

2. Formasi Tasikmalaya, yang merupakan periode pembentukan kaldera tapal kudaserta endapan perbukitan “Sepuluh Ribu” (Ten Thousand Hills)

3. Formasi Cibanjaran, yang merupakan periode “post caldera formation” sampai dengan letusan 1982-1983

Formasi Galunggung Tua ; merupakan hasil kegiatan dengan pusat erupsi di Kawah Guntur (Galunggung Tua), yang terdiri atas perselingan aliran lava, piroklastika dan lahar, serta dike yang membentuk kawah Galunggung Tua. Analisis umur dengan metoda 14C pada lapisan strato menghasilkan umur 20.000-25.000 tahun, dengan demikian umur seluruh kegiatan Galunggung Tua diperkirakan antara 50.000-10.000 tahun yang lalu. Volume batuan mencapai ±56,5 km3, dan kegiatan gunung api ini diakhiri dengan intrusi cryptodome di bawah kawah Guntur.

Formasi Tasikmalaya ; merupakan endapan batuan ‘Perbukitan Sepuluh Ribu’ yang terbentuk sebagai akibat letusan besar pada 4200 ±150 tahun yang lalu, yang menyebabkan terbentuknya kaldera tapal kuda pada bagian timur-tenggara kawah Gunung Api Galunggung. Selain endapan longsoran ‘Perbukitan Sepuluh Ribu’ batuan hasil letusan lainnya adalah awan panas dan lahar.

Formasi Cibanjaran ; merupakan hasil kegiatan letusan yang tercatat dalam sejarah, yaitu 1822, 1894, 1918 dan 1982-1983.

Letusan 1822

1. Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, dimana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan ke kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah.

2. 8 Oktober-12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Luncuran awan panas melalui celah antara Pr. Haur dengan Pr. Ngamplong menuju Cisayong dan Cidadap di bagian lereng timur, hingga Ci Tandui yang berjarak 18 km dari puncak. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Korban manusia tercatat 4011 jiwa dan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak.

3. Kekuatan letusan 8,26

Letusan 1894

1. 7-9 Oktober, terjadi letusan yang menghasilkan awan panas.

2. 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar pada 1822.

3. Desa yang hancur sebanyak 50 buah, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu.

Letusan 1918

1. 6 Juli, letusan diawali gempa bumi, menyebabkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan.

2. 19 Juli, muncul kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85 m dengan ukuran 560 x 440 m yang dinamakan gunung Jadi.

Letusan 1982-1983

Letusan pertama terjadi pada 5 April 1982, yang disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.

1. Fase pertama, letusan awal (5 April-6 Mei 1982) berupa letusan tipe Pellean yang menghancurkan kubah lava Gunung Jadi, serta menghasilkan awan panas, lontaran batu, hujan batu, abu, dan gas. Kubah lava yang terhancurkan diperkirakan 40%. Awan panas meluncur dan mengendap di Cibanjaran sejauh 5,1 km serta di Cikunir dan Cipanas sejauh 4,6 km. Tinggi abu letusan mencapai 12 km dari kawah.

Letusan pada 17-19 Mei, masih merupakan fase penghancuran kubah lava dianggap sebagai ‘letusan utama’ dalam fase pertama ini, dimana tinggi asap letusan mencapai ±30 km dan sisa kubah lava Gunung Jadi sebesar 5%. Setelah fase letusan pertama ini, kegiatan selanjutnya selalu merupakan kelompok letusan.

2. Fase kedua, berupa erupsi tegak tipe vulkano, yang secara dominan menghasilkan piroklastik jatuhan, lontaran batu dan hujan pasir, serta menghancurkan seluruh sisa kubah G. Jadi. Tinggi asap letusan pada 13-19 Juli mencapai ±35 km dan melemparkan sebagian sumbat lava pada pipa kepundan hingga kedalaman 150 meter dari dasar kawah. Terjadi semburan lava pijar dan abu.

Letusan 24 Juni, menyebabkan pesawat terbang British Airways 747 melakukan pendaratan darurat, karena salah satu dari keempat mesin jetnya mati akibat kemasukan abu.

3. Fase ketiga, merupakan erupsi Strombolian yang melontarkan batu pijar seperti kembang api. Letusan yang lebih lemah dan menyemburkan asap dan abu dengan tingkat penghancuran kecil, mencapai tinggi maksimal asap letusan setinggi 12 km. Letusan terus mengecil atau melemah dan terjadi penumpukan bahan letusan berupa tefra di dasar kawah dan di sekeliling lubang letusan membentuk kerucut silinder dengan ketinggian 60 m diatas dasar kawah. Fase erupsi ini diakhiri oleh keluarnya aliran lava dari radial fissure dekat dasar kerucut silinder. Sejak Januari 1983 Gunung Galunggung sudah tidak memperlihatkan aktifitasnya lagi, letusan yang terjadi pada Januari 1984 berupa dua letusan phreatik kecil yang mengeluarkan uap air dan sedikit abu.

Karakter Letusan

Karakter kegiatan G. Galunggung berupa erupsi leleran sampai dengan letusan yang sangat dahsyat yang berlangsung secara singkat atau lama, atau dari letusan yang bertipe Strombolian hingga Pellean. Tanda-tanda peringatan kegiatan (precursor) hanya berlangsung antara beberapa bulan hingga minggu menjelang letusan. Kegiatan erupsi leleran terjadi apabila fase istirahatnya sangat pendek (<25>£ 3, erupsi tipe Stromboli-Vulkano lemah) setelah melalui masa istirahat antara 60-75 tahun. Letusan berskala menengah - besar (VEI : 4-5, erupsi tipe vulkano kuat-Pelee) didahului masa tenang selama ratusan tahun dan letusan berskala besar - sangat besar (VEI ³ 6) berlangsung setelah istirahat beberapa ribu tahun.

Periode Letusan

Letusan yang terjadi dalam sejarah letusan terjadi sebanyak empat (4) kali, yaitu pada 1822, 1894, 1918 dan 1982 – 1983.

Periode letusan yang terjadi selama beberapa jam hingga beberapa bulan.

Letusan 1822, terjadi dalam satu hari, pada tanggal 8 Oktober 1822, antara pukul 13.00 hingga pukul 17.00 WIB

Letusan 1894, terjadi dalam 13 hari, pada tanggal 7-19 Oktober 1894

Letusan 1918, terjadi dalam 4 hari, pada tanggal 16 - 19 Juli 1918

Letusan 1982 - 1983, terjadi dalam 9 bulan, pada tanggal 5 April 1982 - 8 Januari 1983.


Acuan

· Bronto. S, 1989, Volcanic Geology of Galunggung, West Java, Indonesia, A Thesis of Doctor of Philosophy in Geology, Univesity of Canterbury.

· Bronto. S, 1999, Volcanic Hazard and Assesment, G. Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Kusumadinata. K. dkk, 1979, Data Dasar Gunung Api Indonesia, Direktorat Vulkanologi.

· Bronto. S, 1999, Volcanic Hazard and Assesment, G. Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Sudrajat. A, Tilling. L, The 1982-1983 Eruption of Galunggung, Volcanic Hazard in Indonesia.

· Alzwar. M. dkk, 1986, Ciri Erupsi dan Peranan Kegiatan Magma G. Galunggung 1982-1983. Direktorat Vulkanologi.

· Bronto. S, 1999, Volcanic Hazard and Assesment, G. Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Sudrajat. A, Tilling. L, The 1982-1983 Eruption of Galunggung, Volcanic Hazard in Indonesia.

· Kusumadinata. K. dkk, 1979, Data Dasar Gunung Api Indonesia, Direktorat Vulkanologi.

· Sudrajat. A, Tilling. L, The 1982-1983 Eruption of Galunggung, Volcanic Hazard in Indonesia.

GEOLOGI


Gunungapi Galunggung merupakan gunung api aktif tipe strato, yang di dalam pembagian fisiografi Jawa Barat, termasuk di dalam zona gunung api kwarter yang terbentuk di bagian tengah Jawa Barat, dan secara pembagian karakteristik sedimen batuan tersier terletak di dalam cekungan Bogor. Stratigrafi batuan gunung api dapat di teliti lebih jelas dan detil setelah terjadinya letusan 1982 – 1983.

Geomorfologi

Gunung Galunggung menempati daerah seluas ±275 km2 dengan diameter 27 km (barat laut-tenggara) dan 13 km (timur laut-barat daya). Di bagian barat berbatasan dengan G. Karasak, dibagian utara dengan G. Talagabodas, di bagian timur dengan G. Sawal dan di bagian selatan berbatasan dengan batuan tersier Pegunungan Selatan. Secara umum, G. Galunggung dibagi dalam tiga satuam morfologi, yaitu: Kerucut Gunung Api, Kaldera, dan Perbukitan Sepuluh Ribu.

· Kerucut Gunung Api, menempati bagian barat dan selatan, dengan ketinggian 2168 m diatas permukaan laut, dan mempunyai sebuah kawah tidak aktif bernama Kawah Guntur atau kawah saat di bagian puncaknya. Kawah ini berbentuk melingkar berdiameter 500 meter dengan kedalaman 100 – 150 meter.Kerucut ini merupakan kerucut gunungapi Galunggung tua sebelum terbentuknya Kaldera, mempunyai kemiringan lereng hingga 30° di daerah puncak dan menurun hingga 5° di bagian kaki.

· Kaldera, berbentuk sepatu kuda terbuka ke arah tenggara dengan panjang 9 km dan lebar antara 2-7 km. Tinggi dinding Kaldera tertinggi adalah 1000 meter di bagian barat-barat laut dan menurun hingga 10 m di bagian timur-tenggara. Di dalam Kaldera terdapat kawah aktif berbentuk melingkar dengan diameter 1000 meter dan kedalaman 150 meter. Di dalam kawah ini terdapat kerucut silinder setinggi 30 meter dari dasar kawah dan kaki kerucut berukuran 250 x 165 meter yang terbentuk selama periode letusan 1982-1983. Pada Desember 1986, kerucut silinder ini tertutup oleh air danau kawah. Pada 1997, setelah volume air danau kawah dikurangi melalui terowongan pengendali air danau, kerucut silinder ini muncul kembali di permukaan air danau.

· Perbukitan Sepuluh Ribu atau perbukitan “Hillock”, terletak di lereng kaki bagian timur-tenggara dan berhadapan langsung dengan bukaan kaldera. Perbukitan ini menempati dataran Tasikmalaya (±351 m) dengan luas ±170 km2, dan dengan jarak sebaran terjauh 23 km dari kawah pusat dan terdekat 6,5 km serta lebar sebaran ±8 km, dengan sebaran terpusat pada jarak 10 – 15 km. Jumlah bukit tersebut ± 3.600 buah, tinggi bukit bervariasi antara 5 - 50 meter diatas dataran Tasikmalaya dengan diameter kaki bukit antara 50 – 300 meter serta kemiringan lereng antara 15 – 45. Perbukitan ini terbentuk sebagai akibat letusan besar yang menghasilkan kaldera tapal kuda dan yang melongsorkan kerucut bagian timur-tenggara, berumur 4200 tahun yang lalu.

Stratigrafi

Stratigrafi G. Galunggung secara umu dibagi dalam tiga (3) periode kegiatan, yaitu:

1. Periode Pra-Kaldera (Formasi Galunggung Tua)

2. Periode Sin-Kaldera (Formasi Tasikmalaya)

3. Periode Post-Kaldera (Formasi Cibanjaran)

Formasi Tua / Pra Kaldera

Aliran lava: Tersingkap baik pada dinding Kaldera Galunggung membentuk perlapisan dengan kemiringan 3° - 5°, di dasar puncak kawah. Bagian permukaan lava telah menjadi soil dan terbentuk erosi permukaan. Ini menunjukkan bahwa telah terjadi periode istirahat panjang (dormant period). Bagian dalam lava bersifat masif dan bagian luarnya bersifat breksi hingga blok lava masif, mempunyai ketebalan antara 1 hingga 15 meter.

Aliran piroklastik: Tersingkap baik pada dinding kaldera bagian barat daya, dengan ketebalan 3,5 – 2,5 meter, materialnya didominasi berukuran abu hingga lapili, dan penyebarannya sempit.

Jatuhan piroklastik: bergradasi normal dan sortingnya baik

Dike: Memotong perlapisan aliran lava dan endapan piroklastik di bagian bawah dan tengah dinding kaldera dengan ketebalan 2-5 meter dan tidak semuanya muncul di permukaan gunung api

Cryptodome: Terletak di bagian utama dinding kaldera Galunggung pada bagian bawah kawah Galunggung tua. Mempunyai lebar ± 250 meter dan tinggi ± 500 meter.

Formasi Tasikmalaya/Sin Kaldera

Debris avalanche: Merupakan batuan lereng tubuh gunung api memperlihatkan kontak perlapisan aliran lava dengan endapan piroklostik, yang mana mempunyai kesamaan dengan batuan dinding kaldera Galunggung. Pelapisan piroklastik hanya sedikit berubah tetapi aliran lava selalu memperlihatkan rekahan-rekahan. Batuan ini terdiri atas blok-blok lava yang tidak terarah dan fragmen dengan matrik berukuran ash hingga lapili.

Aliran Piroklastik: Berwarna abu tua – abu kecoklatan, tidak terkompaksi. Material didominasi oleh ash dan juga terdapat bom dan blok. Penanggalan radiokarbon (C14) dari Chorcoal yang terdapat pda bagian atas aliran piroklostik memberikan umur 4200 ± 150 yrs BP.

Formasi Cibanjaran/Post Kaldera

Letusan 1822 :

Aliran pirokolstik berwarna abu tua, bersifat lepas dan didominasi oleh ash. Batuan ini ditutupi oleh endapan debris avalanche. Penanggalan radiokabon (C14) dari fragmen kayu di dalam endapan fluvial yang berada di bawah kedua endapan tersebut, mempunyai umur 590 ± 150 yrs BP. Ini menunjukkan bahwa Galunggung mempunyai periode istirahat panjang (dormant periode) sebelum letusan 1822).

Letusan 1894 :

Berupa jatuhan piroklostik yang ditutupi endapan halus.

Letusan 1982-83 :

Aliran piroklostik; tidak terkompaksi, kaya akan ash dan fragmen bom bertipe bom kerak roti. Total volume diperkirakan 5,6 x 106 m3.

Jatuhan piroklostik; mempunyai ketebalan 1-10 meter sampai 30 meter di sekitar kawah aktif. Perlapisan baik dan memperlihatkan normal graded bedding dengan material berukuran dari ash sampai bom dan blok. Fragmen bom bertipe bom kerak roti.

Aliran lava; aliran lava basal keluar pada bagian kaki kerucut silinder.

Struktur Geologi

Dari hasil analisis “Rose Diagram”, pola kelurusan yang terbentuk pada vulkanik kuarter didaerah Gunung Galunggung mempunyai pola yang sama dan memperlihatkan dominasi kelurusan pada arah N 315° E. Arah kelurusan-kelurusan ini sama dengan zona rekahan pada kerucut silinder 1982 – 83, dimana beberapa titik letusan terjadi dan pada Januari 1983 aliran lava muncul. Pada dasarnya struktur di G. Galunggung dapat dihubungkan dengan kedudukan tektonik regional. Kelurusan ke arah timur laut dan zona rekahan (fracture) pada kerucut silinder adalah paralel terhadap sistem sesar Sumatra, yang mana zona rekahan pada kubah lava 1918 (G. Jadi) dan posisi-posisi dike menunjukan arah yang sama terhadap tekanan utama (principal stress) yang berasal dari pergeseran kerak Samudra Hindia. Arah dari tekanan utama ini kurang lebih normal terhadap sumbu Kaldera Galunggung. Ini menunjukkan bahwa orientasi longsoran Kaldera Galunggung mengikuti zona lemah dari ‘Tensional fracture’.

Berdasarkan analisis dari Citra Landsat dan peta geologi lembar Tasikmalaya, struktur yang terdapat berupa kelurusan, rekahan, dan sesar yang pada umumnya berarah tenggara – barat laut. Pola ini sejajar dengan bukaan Kaldera Tapal kuda yang dindingnya dapat dipandang sebagai bidang sesar. Adanya mata air Ci-Panas, Ci-Kunir, dan Ci-Banjaran di sebelah timur – tenggara diperkirakan juga dikontrol oleh rekahan atau sesar bawah permukaan.


Acuan

· Bronto. S, 1989, Volcanic Geology of Galunggung, West Java, Indonesia. A Thesis of Doctor of Philosophy in Geology in The University of Canterbury.

· Bronto. S, 1999, Volcanic Hazard and Assesment, G. Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Wirakusumah. A. D. dkk, 1998, Simulasi Bahaya Lahar Letusan G. Galunggung. Suatu Perkiraan pada Masa mendatang, Proseding PIT. IAGI XXVII, Yogyakarta 1998.

GEOFISIKA


Gaya Berat

Seismik

Hasil pengamatan kegempaan dimulai awal April 1982, magma terletak pada kedalaman 9 km dan bergerak ke kedalaman 2 – 8 km pada akhir April ‘ 82, dan pada awal Juli 1982 magma terus bergerak ke kedalaman 2 – 9 km. Sedangkan migrasi magma yang lain bermigrasi dari kedalaman 9 – 10 km. Distribusi sumber magma berbentuk elips (lonjong) miring ke tenggara dan didominasi oleh gempa tipe A.

Jenis gempa yang terjadi di Gn. Galunggung adalah gempa vulkanik tipe A dan B, gempa vulkanik tremor dan gempa letusan, serta gempa tektonik cokal

Geomagnet

Analisis data kemagnetan dilakukan dalam waktu nyata (real time) selama periode September 1982 – Maret 1983. Sinyal kemagnetan berada di bawah batas gangguan (noise) yang ditentukan oleh teknik penefsiran. Aktifitas magnetik secara mendasar tidak berbeda dalam Oktober 1982 – Februari 1983. Hasil pengamatan geomagnet secara keseluruhan ternyata sesuai dengan kejadian-kejadian erupsi serta sesuai dengan pengamatan menggunakan metoda lain, dimana hasil analisis menunjukkan adanya kelainan intensitas kemagnetan (penurunan) sebelum terjadinya letusan.

Deformasi

Pengamatan deformasi dilaksanakan selama periode letusan 1982 – 1983, dengan metoda ungkitan (“Dry Tilt”) dan pengukuran jarak jauh (EDM : Electronic Distance Measurement)

Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada umumnya letusan-letusan yang terjadi antara Juli 1982 – Januari 1983 sudah dapat diyakinkan beberapa jam sampai lebih dari satu minggu sebelumnya. Laju perubahan per satuan waktu (hari) menjelang suatu letusan lk antara 4 – 100 mm pada garis ukur Kubang Hurang – Pasir Bentang. Kemungkinan pusat penumpukan tenaga menjelang letusan antara Agustus 1982 – Januari 1983 terletak pada kedalaman ± 2,5 km dari tepi kawah G. Welirang


Acuan

· Matahelumual. S, 1986, Pengamatan Perubahan Bentuk Permukaan G. Galunggung, Dalam Letusan Galunggung 1982 – 1983.

· Bof. M, Ligozat. H, Revee. P, Robach. F, 1986, Pengamatan dan Geomagnet G. Galunggung. Periode September 1982 – Maret 1983. Dalam Letusan Galunggung, Kumpulan Makalah Hasil Penyelidikan.

· Said. H. dkk, 1986, Studi Kemagnetan G. Galunggung, Tasikmalaya, Periode Oktober 1982 – Maret 1983. Dalam Letusan Galunggung, Kumpulan Makalah Hasil Penyelidikan.

· Matahelumual. S, 1986, Pengamatan Perubahan Bentuk Permukaan G. Galunggung, Dalam Letusan Galunggung 1982 – 1983. Kumpulan Makalah Hasil Penyelidikan. Direktorat Vulkanologi.

GEOKIMIA


Jenis Batuan

Batuan Gn. Galunggung seluruhnya berkomposisi basal sampai andesit basal bertekstur porfir, dengan fenokris berbutir sedang-halus tertanam di dalam masa dasar mikro kristal dan atau gelas. Fenokris terbanyak adalah plagioklas labradorit, diikuti oleh piroksen klino, olivin, piroksen ortho, dan magnetit. Amfibol hanya terdapat di dalam lava gunung api hasil letusan kaldera tapal kuda, serta fase awal dari periode erupsi yang didahului oleh masa istirahat panjang.

Batuan Gn. Galunggung sebelum letusan 1982-83, umumnya mempunyai komposisi yang relatif sama, yaitu; Al tinggi (18-20%), Mg rendah (4-5%), nomor Magnesium rendah (50-55), Ni dan Cr rendah, dan Ba dan Sr tinggi. Kandungan forterit olivin tidak terlalu tinggi (Fo: 70) dan komposisi piroksen cliro adalah augit, semua mineral pak primer adalah magnetit. Anomali basal terjadi pada kubah bawah permukaan (cryptodome) yang merupakan kegiatan fase akhir dari formasi Galunggung Tua. Anomali tersebut berupa tingginya kandungan Mg (10,5% MgO), nomor Mg (71), Ni (94 ppm), dan Cu (395 ppm), sedangkan kandungan Al rendah (16% Al2O3), demikian pula Ba dan Sr.

Anomali petrologi terjadi lagi pada batuan hasil letusan 1982-83, yang mana pada fase akhir letusan batuan ini berupa basal primitif.

Batuan tersebut mempunyai kandungan Mg tinggi (12,5% MgO), nomor Mg (74,70), Ni (193 ppm), Cr (7,11 ppm), Al (15% Al2O3), Ba (40 ppm), Rb (7 ppm), dan Sr (197 ppm). Basal primitif ini dipandang sebagai magma primer.

Analisis Gas

Pengukuran pancaran gas SO2 sejak Agustus 1982 – Januari 1983 telah diukur dengan menggunakan alat COSPEC, dengan volume rata-rata mencapai 600 ton/hari dan kemudian menurun sejak Oktober, mencapai 100 ton/hari pada Januari 1983.

Hasil analisis gas yang diambil disekitar kawah pada fumorola memperlihatkan bahwa gas didominasi oleh H2O ; % vol CO2 : 0,92 ; SO2 : 8,9 x 10-5 ; H2S : nihil ; HCl : 1,4 x 10-4 ; CO2 : nihil ; dan NH3 : 1 x 10-4.

Unsur-unsur tersebut masih di bawah nilai batas ambang.

Analisis Air

Hasil analisis air danau kawah saat ini memperlihatkan:

PH air danau : 7,20 - 7,86

Temperatur air danau : 22,4 - 24,0 °C

Konsentrasi ion Mg : 23,42 – 42,13 ppm

Konsentrasi ion Cl : 8,86 – 15,00 ppm

Acuan

· Badrudin, 1986, Pancaran Gas CO2 pada letusan Gn. Galunggung, 1982. Direktorat Vulkanologi

· Bronto. S, 1989, Volcanic Geology of Galunggung, West Java, Indonesia. A Thesis of Doctor of Philosophy in Geology in The University of Canterbury.

· Bronto. S, 1999, Volcanic Hazard and Assesment, G. Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi

· Wirakusumah, A.D, 1977. Laporan Akhir Supervisi Terowongan G. Galunggung, Direktorat Vulkanologi.

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI


Upaya mitigasi bencana Gunungapi Galunggung dilakukan dengan tujuan untuk mencegah/memperkecil jumlah korban manusia serta kerugian harta benda akibat bahaya letusan. Berdasarkan karakternya G. Galunggung mempunyai potensi bahaya dari yang terkecil hingga terbesar. Tapi, dengan mempertimbangkan hasil akhir kegiatan letusan 1982-1983, yang berkomposisi sangat primitif (basal kaya Mg) yang sebanding dengan komposisi “cryptodome” pada akhir kegiatan Galunggung tua, maka diperkirakan pada saat ini dan waktu mendatang Gunungapi Galunggung sedang mengalami fase istirahat sangat panjang, dan mungkin dalam hitungan ribuan tahun untuk mencapai letusan yang sangat dahsyat dan merusak. Berhubung kejadian letusan belum dapat ditentukan secara tepat waktunya, maka berbagai upaya mitigasi bencana perlu dilakukan.

Mitigasi bencana Gunung api Galunggung dilakukan dengan pembuatan Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Galunggung, Peta Zona Resiko Bahaya Gunung api Galunggung, monitoring (pemantauan) kegiatan Gunungapi Galunggung, serta pembuatan terowongan pengendali air danau kawah sebagai upaya peringatan dini.

1. Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Galunggung

Peta ini sebagai peta petunjuk untuk evakuasi jika terjadi peningkatan kegiatan atau letusan. Peta ini memperlihatkan kawasan di daerah G. Galunggung yang rawan terhadap ancaman bahaya letusan. Kawasan rawan bencana dibagi dalam tiga (3) tingkatan, yaitu kawasan rawan bencana III, kawasan rawan bencana II, dan kawasan rawan bencana I.

1. Kawasan Rawan Bencana III, adalah kawasan yang setiap saat terlanda ancaman bahaya letusan ; berupa awan panas, lontaran batu pijar, dan lahar letusan. Kawasan ini merupakan daerah yang tidak layak untuk pemukiman.

2. Kawasan Rawan Bancana II, adalah kawasan yang berpotensi terlanda ancaman bahaya letusan ; berupa awan panas, lontaran batu, dan lahar hujan.

3. Kawasan Rawan Bencana I, adalah kawasan yang berpotensi terlanda ancaman bahaya letusan ; berupa lahar hujan dan perluasan ancaman bahaya awan panas.

2. Peta Zona Risiko Bahaya Gunungapi Galunggung

Peta ini memperlihatkan tingkat risiko yang akan dialami oleh setiap unit pemukiman dan tutupan lahan lainnya yang berada di dalam kawasan rawan bencana, terhadap ancaman bahaya letusan. nIlai risiko yang terjadi dibagi dalam 5 (lima) tingkatan; berdasarkan kerentanannya dari tiap-tiap elemen bencana (terutama unit-unit pemukiman) terhadap jenis ancaman potensi bahaya letusannya, yaitu:

1. Tingkat risiko sangat tinggi

2. Tingkat risiko tinggi

3. Tingkat risiko sedang

4. Tingkat risiko rendah, dan

5. Tingkat risiko sangat rendah.

Sedangkan ancaman potensi bahaya letusannya dibagi dalam 4 (empat) tingkatan berdasarkan karakteristik jenis potensi bahayanya, dan kondisi morfologi sepanjang daerah sebarannya, yaitu:

1. Potensi bahaya kuat ; terdiri atas awan panas kuat, dan jatuhan piroklastik kuat.

2. Potensi bahaya sedang; terdiri atas awan panas sedang dan lahar kuat.

3. Potensi bahaya rendah; terdiri atas awan panas rendah dan lahar sedang.

4. Potensi bahaya sangat rendah; terdiri atas awan panas rendah, jatuhan piroklastik rendah, lahar rendah, dan lahar sangat rendah.

Monitoring (Pemantauan)

Kegiatan pemantauan dilaksanakan untuk mengetahui perubahan tingkat kegiatan G. Galunggung yang dilakukan secara terus menerus (24 jam) di Pos Pengamatan Gunung Api Galunggung, di Sayuran. Pemantauan dilakukan melalui metoda instrumentasi, gempa metoda seismik , dan metoda pengamatan secara visual. Disamping itu, dilakukan pula secara berkala penelitian di daerah puncak, berupa pengukuran temperatur air danau kawah dan solfatara/fumarola, serta perkembangan pertumbuhan kerucut sinder . Hasil seluruh kegiatan pemantauan digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan status tingkat kegiatan G. Galunggung. Status tingkat kegiatan sekarang dalam tingkat aktif normal dan kerucut sinder mempunyai ketinggian 30 meter dari dasar kawah dengan kaki kerucut berukuran 250 m x 165 m.

Terowongan pengendali air danau kawah

Pembangunan terowongan dimaksudkan untuk mengurangi dan menstabilkan volume air danau kawah, dengan tujuan untuk memperkecil dampak ancaman lahar letusan jika terjadi letusan. Pembangunan terowongan selesai pada 1997, dengan volume akhir danau kawah yang semula 7.173.794 meter3 (1996) menjadi sebesar 749.764 meter3 (1997). Dari hasil analisis simulasi bahaya lahar letusan maka ancaman bahaya lahar letusan yang melanda tiga sungai utama yang berhulu di daerah puncak, adalah: Cikunir sejauh 1,08 km, Cipanas sejauh 0,72 km, dan Cibanjaran sejauh 1,87 km.


Acuan

· Bacharudin. R. dkk, 1995, Pemetaan Zona Resiko Bahaya Gunung Api Galunggung, Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Bronto. S, 1999, Volcanic Hazard and Assesment, G. Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Hadisantono. R. D. dkk, 1996. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Galunggung, Jawa Barat, Skala 1 : 50.000, Direktorat Vulkanologi.

· Wirakusumah. A. D. dkk, 1998, Simulasi Bahaya Lahar Letusan G. Galunggung. Suatu Perkiraan pada Masa mendatang, Proseding PIT. IAGI XXVII, Yogyakarta 1998.

DAFTAR PUSTAKA


· Alzwar. M. dkk, 1986, Ciri Erupsi dan Peranan Kegiatan Magma G. Galunggung 1982-1983. Direktorat Vulkanologi.

· Bacharudin. R. dkk, 1995, Pemetaan Zona Resiko Bahaya Gunung Api Galunggung, Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Badrudin, 1986, Pancaran Gas CO2 pada Letusan G. Galunggung, 1982. Direktorat Vulkanologi.

· Bof. M, Ligozat. H, Revee. P, Robach. F, 1986, Pengamatan dan Geomagnet G. Galunggung. Periode September 1982 – Maret 1983. Dalam Letusan Galunggung, Kumpulan Makalah Hasil Penyelidikan.

· Bronto. S, 1989, Volcanic Geology of Galunggung, West Java, Indonesia. A Thesis of Doctor of Philosophy in Geology in The University of Canterbury.

· Bronto. S, 1999, Volcanic Hazard and Assesment, G. Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Direktorat Vulkanologi.

· Bronto. S, Hartono. G, 1996, Pengembangan Wisata di Kawasan Gunung Api Galunggung, Kabupaten Tassikmalaya, Propinsi Jawa Barat.

· Hadisantono. R. D. dkk, 1996. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Galunggung, Jawa Barat, Skala 1 : 50.000, Direktorat Vulkanologi.

· Kusumadinata. K. dkk, 1979, Data Dasar Gunung Api Indonesia, Direktorat Vulkanologi.

· Matahelumual. S, 1986, Pengamatan Perubahan Bentuk Permukaan G. Galunggung, Dalam Letusan Galunggung 1982 – 1983.

· Said. H. dkk, 1986, Studi Kemagnetan G. Galunggung, Tasikmalaya, Periode Oktober 1982 – Maret 1983. Dalam Letusan Galunggung, Kumpulan Makalah Hasil Penyelidikan.

· Sudrajat. A, Tilling. L, The 1982-1983 Eruption of Galunggung, Volcanic Hazard in Indonesia.

· Wirakusumah, A.D, 1977. Laporan Akhir Supervisi Terowongan G. Galunggung, Direktorat Vulkanologi.

· Wirakusumah. A. D. dkk, 1998, Simulasi Bahaya Lahar Letusan G. Galunggung. Suatu Perkiraan pada Masa mendatang, Proseding PIT. IAGI XXVII, Yogyakarta 1998.

Dokumentasi Peta

1. Nama Lembar peta : Tasikmalaya dan Singaparna

2. Nomor : 4021-III dan 4020-IV (AMS)

3. Skala : 1 : 50.000

4. Wilayah Administrasi : Kabupaten Garut dan Tasikmalaya

5. Pemilik Peta : Kartografi P3G

6. Tahun Penerbitan : 1966

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar