16 November 2010

Kawah Ijen

IJEN, Jawa Timur

Compiler : N. Euis Sutaningsih (mvopgm@yogya.wasantara.net.id)

Editor : Mas Atje Purbawinata, Asnawir Nasution


Keterangan Umum

Nama

:

G. Ijen

Nama Lain

:

Gunung Kawah Ijen

Nama Kawah

:

Kawah Ijen

Lokasi

:

Koordinat/ Geografi : 8°03,5'LS dan 114°14,5' BT. Secara administratif termasuk : Kecamatan Licin, Sempol, Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso.

Ketinggian

:

Tepi kawah 2386 m dan Danau Kawah 2145 m

Kota Terdekat

:

33 km dari Banyuwangi

Tipe Gunungapi

:

Strato

Pos Pengamatan

:

Terletak di Kampung Pangsungsari, Licin, Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Geografi 08°08,812' LS dan 114°15,426' BT.

Elevasi di atas muka laut

:

730 m

Pendahuluan

Untuk mencapai Kawah Ijen dapat ditempuh dengan dua cara yaitu dari utara dan dari selatan.

a. Lewat jalan utara

Dari Situbondo menuju Sempol (Bondowoso) lewat Wonosari kemudian dilanjutkan ke Paltuding yang dapat dicapai dengan kendaraan bermotor roda dua atau roda empat. Jarak Situbondo sampai Paltuding adalah 93 km dan kondisi jalan sampai Paltuding boleh dikatakan sangat bagus sehingga dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam.

b. Lewat jalan selatan

Dari Banyuwangi menuju Licin yang berjarak sekitar 15 km, yang dapat dilewati dengan kendaraan bermotor roda dua atau empat selama sekitar 30 menit. Dari Licin menuju Paltuding yang berjarak sekitar 18 km perjalanan dapat diteruskan dengan kendaraan bermotor terutama jenis jeep double gardan karena sekitar 6 km sebelum sampai di Paltuding melewati jalan yang dinamakan tanjakan erek-erek yang berupa belokan berbentuk S dan sekaligus menanjak, perjalanan memerlukan waktu sekitar satu jam, karena jalanan sering rusak oleh air hujan maupun dilewati truk pengangkut Belerang setiap hari.

Dari Paltuding ke Kawah yang berjarak 3 km ditempuh dengan berjalan kaki melewati pondok Pengairan/pondok Irigasi sekitar 90 menit. Lewat utara dengan kendaraan roda empat atau dua.

23 km 55 km 15 km

Situbondo --------------> Wonosari --------------->Sempol --------------> Paltuding

30 menit 90 menit 30 menit

Lewat selatan dengan kendaraan roda dua atau empat :

15 menit 18 km

Banyuwangi -------------------> Licin --------------------> Paltuding

30 menit 60 menit

Demografi (Kependudukan)

Daerah bahaya/waspada Gunung Ijen terdapat di tiga kabupaten yaitu Bondowoso, Banyuwangi dan Situbondo. Jumlah penduduk yang tinggal di daerah bahaya Gunung Ijen pada tahun 1985 berjumlah 12.155 jiwa dengan luas area sekitar 65.367 km2.

Tempat pemukiman penduduk yang paling atas dan dekat dengan Gunung Kawah Ijen adalah desa Kali Anyar, Kecamatan Sempol Kabupaten Bondowoso Dulu Desa Kali Anyar termasuk dalam Kecamatan Klabang, sekarang mulai Januari 2001 dimasukkan dalam kecamatan Sempol. Berdasarkan data tahun 2001 (BPPTK), penduduk Desa Kali Anyar berjumlah 5.065 jiwa yang tersebar di 9 dusun yaitu : Plalangan, Blawan, K. Sengon, K. Gedang, Ler Penang, Sumberejo, G. Blau, Watu Capil dan Curah Macam.

Penduduk Banyuwangi yang tinggal di daerah bahaya/waspada terutama yang tinggal di daerah sepanjang aliran Kali Bendo dan Kali Mailang.

Penduduk Kabupaten Situbondo yang tinggal di daerah bahaya/waspada Gunung Ijen adalah yang terletak di sepanjang aliran Kali Banyuputih antara lain kecamatan Banyuputih dan Asem Bagus. Penduduk tersebut pada umumnya bekerja sebagai petani, pegawai perkebunan/pabrik, dan buruh.

Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi

Gunung Kawah Ijen memiliki sumberdaya gunungapi bervariasi dan sangat potensial yang meliputi :

a. Sublimat belerang

Sublimat belerang merupakan produk Gunung Kawah Ijen yang sudah dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dalam industri kimia. Belerang dihasilkan dari hasil sublimasi gas-gas belerang yang terdapat dalam asap solfatara yang bersuhu sekitar 200 °C. Kapasitas belerang rata-rata sekitar 8 ton/hari . Lapangan solfatara terletak di sebelah tenggara danau Kawah Ijen.

b. Sumber mataair panas

Sumber mataair panas bertipe asam sulfat khlorida dengan suhu 70 °C dan pH sekitar 2, 6 terdapat didekat lapangan solfatara Ijen. Sedangkan air panas netral bertipe bikarbonat dengan suhu sekitar 45 ° terdapat di dalam kaldera Ijen sebelah utara yaitu di Blawan, Kabupaten Bondowoso

c. Air Danau Kawah Ijen

Danau Kawah Ijen merupakan reaktor multi komponen yang didalamnya terjadi berbagai proses baik fisika maupun kimia antara lain pelepasan gas magmatik, pelarutan batuan, pengendapan, pembentukan material baru dan pelarutan kembali zat-zat yang sudah terbentuk sehingga menghasilkan air danau yang sangat asam dan mengandung bahan terlarut dengan konsentrasi sangat tinggi. Air danau kawah Ijen dapat dibuat gipsum dengan cara menambahkan kapur tohor kedalamnya. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan di BPPTK tiap 1 liter air kawah Ijen yang direksikan dengan kapur tohor secara stokiometri menghasilkan 100 gram gipsum.

d. Lapangan Gipsum/anhidrit

Pembentukan gipsum/anhidrit terjadi di bawah dam Kawah Ijen yaitu di hulu Kali Banyupait. Air danau kawah yang mengandung sulfat dengan konsentrasi tinggi merembes dan atau melewati batuan sehingga terbentuk gipsum. Batuan disini berfungsi sebagai sumber kalsium. Dengan adanya proses penguapan/pemanasan di permukaan gipsum yang terjadi dapat kehilangan airnya sehingga membentuk anhidrit.

e. Batuan vulkanik terutama batu apung

Batu apung banyak ditemukan disekitar danau kawah Ijen terutama di hulu Kali Banyupait.

f. Objek Wisata dan studi vulkanologi

Gunung Danau Kawah Ijen selain menarik dijadikan sebagai objek wisata juga sangat menarik untuk studi geologi dan geokimia.

Wisata

Gunung Kawah Ijen merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Timur yang selalu ramai dikunjungi baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Alam pegunungan yang indah dan sejuk sering mereka nikmati mulai dengan cara berkemah di Paltuding. Dengan ditemuinya ayam hutan disepanjang jalan aspal menunjukkan bahwa. keasrian gunung dan hutan masih terawat dengan baik.

Di Puncak Gunung Ijen terdapat danau kawah dengan airnya yang berwarna hijau toska dan ber-pH sangat asam. Di sebelah tenggara danau terdapat lapangan solfatara yang merupakan dinding danau Kawah Ijen dan di bagian barat terdapat Dam Kawah Ijen yang merupakan hulu dari Kali Banyupait.

Lapangan solfatara Gunung Kawah Ijen yang selalu melepaskan gas vulkanik dengan konsentrasi sulfur yang tinggi dan bau gas yang kadang menyengat dan mengiritasi saluran pernafasan ini merupakan objek wisata yang tak pernah terlewatkan untuk didatangi, bahkan tempat ini disiang hari tak pernah sepi karena selalu terdapat penambang belerang yang mengambil dan mengangkut/memikul sublimat belerang sampai di Paltuding.

Dam Kawah Ijen merupakan bagian dari objek wisata menarik tetapi tidak selalu dikunjungi oleh wisatawan dikarenakan antara lain pencapaiannya yang sulit disebabkan jalan menuju kesana sering rusal karena terjadi longsor. Dam Kawah Ijen adalah bangunan beton yang dibangun sejak jaman penjajahan Belanda dan dimaksudkan untuk mengatur level air danau agar tidak menyebabkan banjir air asam. Tetapi bendungan ini sekarang tidak berfungsi karena air tidak pernah mencapai pintu air disebabkan terjadinya rembesan/bocoran air danau di bawah dam.

Terjadinya rembesan yang terus menerus ini mengakibatkan terjadi proses pembentukan gypsum dari hasil reaksi sulfat yang terkandung dalam air danau dengan senyawa Kalsium baik dari air tersebut maupun dengan Kalsium dari batuan yang dilewati dan proses penguapan yang juga mempercepat pembentukannya. Lapangan Gipsum dapat menjadi salah satu objek wisata yang menarik bila dikelola secara professional.


Daftar Acuan

· Brosur “Cagar Alam/Taman Wisata, Kawah Ijen” Balai Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi.

· Mulyadi E. Dan Wahyudin D. 1998, G. Ijen, Sejarah kegiatan, potensi bahaya dan wisata gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

· Sutaningsih, N. E. dkk , 2001, “Penyelidikan Pengaruh Unsur Vulkanik G. Ijen, (Penyelidikan Kimia Gas dan Survey Kependudukan Awal DI Gunung Ijen)”, Laporan Proyek, BPPTK, Yogyakarta

· Sutaningsih N.E. , Marina S., Hartiyatun S dan Sukarnen, 2001, “Pengolahan Air Kawah Ijen menjadi gipsum dan Aluminium Hidroksida”, Prosiding Seminar Nasional Kejuangan Teknik Kimia UPN “Veteran, Yogyakarta, ISBN 979-9637-0-1.

· Sutaningsih, N. E. dkk , 2001, “Penyelidikan Pengaruh Unsur Vulkanik G. Ijen, (Penyelidikan Kimia Gas dan Survey Kependudukan Awal DI Gunung Ijen)”, Laporan Proyek, BPPTK, Yogyakarta

· Kusumadinata, K., Hadian R., Hamidi, S., dan Reksowirogo, L., D., 1979, “Data Dasar Gunungapi Indonesia”, Direktorat Vulkanologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi, RI.

· Mulyadi E. Dan Wahyudin D. 1998, G. Ijen, Sejarah kegiatan, potensi bahaya dan wisata gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

· Purwanto, H. B dkk, 1999 – 2001, Catatan Pengamatan aktivitas Gunung Kawah Ijen, Jawa Timur.

· Mulyadi E. Dan Wahyudin D. 1998, G. Ijen, Sejarah kegiatan, potensi bahaya dan wisata gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

· Dari hasil evaluasi sejarah letusan Gunung Ijen

SEJARAH LETUSAN


Sejarah Letusan

Letusan yang tercatat dalam sejarah adalah sebagai berikut :

1796

:

Merupakan letusan pertama yang tercatat, dan dianggap merupakan letusan preatik.

1817

:

16 Januari Penduduk sekitar Banyuwangi mendengar suara gemuruh dahsyat seperti dentuman meriam, disertai dengan gempa bumi. Pada tanggal 15 Januari terjadi banjir Lumpur menuju Banyuwangi, (Junghuhn,1853, p.1022), sedangkan Taverne (1926, p. 102) menduga kemungkinan waktu letusan 1817, sebagian besar air danau dialirkan oleh K. Banyupait.

1917

:

Taverne (1926, p. 102) Menulis bahwa waktu itu air danau kelihatan mendidih bercampur lumpur dan uap kadang-kadang letusan terjadi di danau kawah, lumpur dilemparkan keatas sampai 8 – 10 m diatas muka air. Hal yang sama terulang lagi pada 7 – 14 Maret. Neuman Van Padang (1951, p 158), menganggapnya letusan pada danau kawah, dan letusan preatik pada 25 Februari dan 13 Maret.

1936

:

Neuman van Padang (1936, p. 10 dan 1951, p. 158), menganggap pada 5 – 25 November terjadi letusan preatik dan letusan pada danau kawah, menghasilkan lahar seperti dalam 1796 dan 1817. Korban manusia tidak ada.

1952

:

Pada 22 April pukul 6.30, terjadi letusan asap setinggi 1 km dan suara guguran terdengar dari Sempol. Di dalam kawah terjadi letusan Lumpur setinggi 7 m, hampir sama dengan peristiwa letusan 1936. Korban tidak ada. (Hadikusumo, 1950 – 1957, p. 184).

1962

:

Pada tanggal 13 April, dibagian tengah permukaan danau kawan Ijen terjadi bualan gas di dua tempat yang masing-masing berdiameter sekitar 10 m. dan tanggal 18 April jam 07.42 terjadi bualan air di bagian utara danau kawah berdiameter sekitar 6 m, kemudian bualan air tersebut membesar menjadi 15 – 20 m. Pada jam 12.15 bualan air ini menyemburkan air setinggi sekitar 10 m. Warna air danau yang semula hijau muda berubah menjadi hijau keputihan.

1976

:

30 Oktober, jam 09.44 tampak bualan air pada dua tempat dekat Silenong selama 30 menit.

1991

:

15, 21 dan 22 Maret, terjadi bualan air berdiameter sekitar 5 m disertai perubahan warna air kawah dari hijau muda menjadi coklat. Menurut para penambang belerang terjadi semburan gas setinggi 25 – 50 m dengan kecepatan tinggi. Bualan ini tercacat oleh seismograf dalam bentuk gempa tremor terus menerus dari 16 – 25 Maret 1991.

1993

:

Pada tanggal 3 jam 08.45 terjadi letusan preatik ditengah danau disertai tekanan kuat dan bunyi yang keras dengan semburan setinggi 75 m, Warna air dari hijau keputihan berubah menjadi kecoklatan dan permukaan danau menjadi gelap. Tanggal 4 Juli, jam 08.35 terjadi letusan preatik ditandai dengan menyemburkan air setinggi sekitar 35 m. Tanggal 7 Juli jam 02.15 terjadi letusan preatik disertai suara yang cukup keras dan terdengar sampai sejauh 1 km. Pada 1 Agustus jam 16.35, terjadi letusan preatik disertai dua suara letusan yang terdengar sampai sampai 1 km. Letusan ini didahului oleh gempa terasa disekitar puncak. Gumpalan asap berwarna putih tebal dengan tekanan kuat terlihat mencapai tinggi sekitar 500 m.

1999

:

Pada tanggal 28 Juni sampai tanggal 28 Juli terjadi kenaikan aktivitas di danau kawah yang ditandai dengan kenaikan suhu air danau kawah mencapai 46 °C (3 Juli) dan pada waktu yang bersamaan suhu solfatara 1 ,4 dan 5 masing-masing 198°C, 176 dan 168 °C .Pada tanggal 8 Juli terjadi penurunan suhu air danau kawah pada lokasi yang sama menjadi 40 °C sedangkan suhu solfatara mengalami peningkatan masing-masing menjadi 210, 221 dan 207 °C

2000

:

Pada tanggal 6 Juni 2000 terjadi peningkatan aktivitas yang ditandai dengan adanya kenaikan suhu danau kawah Ijen sampai mencapai 55 °C dan terjadi letusan preatik.

Dari data seismic tercatat adanya peningkatan jumlah gempa, terjadi juga gempa vulkanik dan tremor yang kemudian jumlahnya meningkat pada akhir bulan Juli. Tinggi asap diatas kawah yang semula 25 m, pada akhir pertengahan September naik menjadi 50 m diatas kawah.Seminggu kemudian aktivitas menurun antara lain ditandai dengan tinggi asap yang kembali menjadi 25 m dan air danau kawah turun menjadi kurang dari 40 °C.

2001

:

Tanggal 8 januari terjadi peningkatan aktivitas vulkanik ditandai dengan adanya bualan air danau seperti mendidih, bau gas solfatara sangat tajam, terdengar suara blaser yang nyaring dan asap putih tebal dengan tekanan yang kuat (arah asap tegak lurus) dan pada lokasi penambangan belerang terjadi kebakaran belerang, menurut pegawai solfatara telah terjadi letusan di air danau kawah kemungkinan letusan preatik. Pada tanggal 14 Januari suhu permukaan air danau kawah di Dam mencapai 48 °C.

Karakter Letusan

Letusan yang pernah terjadi adalah preatik dan magmatik. Letusan preatik lebih sering terjadi karena Gunung Ijen berdanau kawah sehingga adanya kontak langsung atau tidak langsung antara air dengan magma membentuk uap yang bertekanan tinggi yang menyebabkan terjadinya letusan.

Periode Letusan

Dari sejarah kegiatannya, sejak tahun 1991 letusan preatik terjadi setiap satu sampai 3 tahun sekali. Sedangkan tahun 1917 sampai 1991 periode letusan tercatat 6 sampai 16 tahun sekali. Letusan besar yang menelan korban manusia adalah pada tahun 1817.

GEOLOGI


Pegunungan Ijen terletak di bagian ujung timur Pulau Jawa mulai dari selat Bali sampai daerah Bondowoso meliputi luas 500 km2, terdiri dari endapan vulkanik antara lain abu gunungapi, lapili, bom gunungapi dan leleran lava. Letusan yang menghancurkan puncak gunungapi di pegunungan Ijen adalah Gunung Raung dan Kawah Ijen.

Morfologi

Daerah Ijen dan sekitarnya terdiri dari dataran tinggi, bukit-bukit gunungapi dalam kaldera, lereng dan dataran yang merupakan daerah pengendapan. Kemmerling (1921, hal 15) membagi morfologi Ijen menjadi lima satuan yaitu :

a. Runtuhan gunungapi Ijen tua, Gunung Kendeng dan Gunung Ringgih (kira-kira 2000 m).

b. Kelompok gunungapi sebelah timur, termasuk Gunung Merapi, Kawah Ijen, Gunung Papak, Widodaren dan Pawenan.

c. Kelompok gunungapi sebelah selatan termasuk Gunung Rante, Cilik (1600 m).

d. Kelompok gunungapi sebelah barat termasuk Gunung Jampit, merupakan bendungan jebol dari Gunung Raung dan Suket.

e. Dataran tinggi Ijen dengan kelompok gunungapi parasit yang terdiri dari kumpulan gunungapi yang terletak ditengah-tengah. Dataran tinggi Ijen dan gunungapi kecil seperti Gunung Kukusan, Deleman, Pendil dengan kawahnya sedalam 100 m; Gunung Kenteng, Panduan, Anyar dan Gunung Lingker.

Sesuai dengan kebutuhan Direktorat Vulkanologi yaitu untuk penentuan daerah bahaya maka Reksowirogo (1971), membagi daerah Gunung Ijen menjadi tiga satuan morfologi, yaitu ;

Tanah Tinggi Ijen

Tanah tinggi Ijen terdiri dari puncak-puncak gunung, dataran dan bukit-bukit. Di dalam daerah ini terdapat gunungapi yang masih aktif maupun yang sudah padam (tidak ada lagi kegiatan volkanik). Gunungapi yang masih aktif diantaranya Kawah Ijen dan Gunung Raung, sedangkan gunungapi padam disantaranya Gunung Blau, Pawenan, Papak, Widodaren, Lempuyangan, Rante, Lebu agung, Kukusan, Delaman, Pedot, Cilik, Pendil, Jampit, Genteng, Anyar, Lingker, Melaten dan Merapi.

Dataran di tanah tinggi

Batas-batas dataran tersebut adalah disebelah utara Gunung Pendil, Blawan, Blau dan Gunung Rante disebelah barat laut. Dataran ini sebagian besar terdiri dari perkebunan kopi Blawan, Jampit dan Kali Sat.

Bukit-bukit di Tanah Tinggi

Terdiri dari puncak-puncak tinggi dab hulu sungai. Puncak tinggi hampir semuanya gunungapi parasit yang terjadi setelah terbentuknya kaldera Ijen yang meliputi Kawah Ijen, Gunung Ranti, Pawenan, Merapi, Ringgih, Widodaren, Kukusan dan Papak. Sungai yang berhulu langsung di tepi kawah Ijen adazlah sungai Banyupait dan Bendo.

2. Daerah sekitar Lereng

Merupakan daerah pengikisan yang letaknya sebelah utara gunung antara ketinggian 1550 m sampai 150 m, sebelah timur dari ketinggian 800 m sampai dengan 100 m dan sebelah selatan dari ketinggian 1400 m sampai 300 m.

Daerah dataran

Merupakan daerah pengendapan yang terdiri dari pesawahan, perkampungan, tegalan, perkebunan, kota dan sungai.

Batuan Gunungapi Ijen

Erupsi gunungapi Ijen mengeluarkan gas, material piroklastik yang terdiri dari pasir, abu dan bom gunungapi yang semuanya bersifat batuapungan. Jenis batuan gunungapi Ijen menurut Brouwer (dalam Kemmerling,1921) terdiri dari andesit augit hipersten.

Bentuk dan Struktur Kawah Ijen

Kawah Ijen dan Gunung Merapi merupakan dua gunungapi kembar (Taverne, 1926, hal.99), sedangkan Neuman Van Padang (1951, hal. 157) menulis bahwa Kawah Ijen dibentuk oleh gunungapi kembar dengan gunung Merapi yang telah padam, yang terdapat di tepi timur dari pinggir kaldera besar Ijen. Kawah Ijen berbentuk elips karena perpindahan pipa kepundan. Dinding kawah yang terendah terletak di sebelah barat dan merupakan hulu Kali Banyupait. Sekarang kawah berukuran 1160 m x 1160 m pada ketinggian antara 2386 dan 2148 m diatas muka laut.

Danau kawah Ijen berukuran 910 m x 600 m pada ketinggian 2148 dan kedalaman 200 m. Volume air danau sekitar 30 juta m3 (Takano,dkk, 1996).

Komplek Solfatara

Komplek solfatara Gunung Ijen terdapat di sebelah tenggara dan merupakan bagian dari dinding danau itu sendiri. Batuan yang terdapat di areal solfatara sudah teraltrasi secara intensif yang didominasi warna putih sampai kuning. Suhu gas solfatara yang diukur dengan thermokopel pada bulan Agustus 2001 mencapai 200 – 202 °C.

Di komplek solfatara Gunung Ijen yang semula terdapat lima lubang solfatara besar, yaitu solfatara I, II, III IV dan IV (Penomoran Vulkanologi). Sekarang, Agustus 2001, jumlah solfatara bertambah menjadi delapan buah.. Pegawai solfatara PT Candi Ngrimbi memberi nama solfatara menjadi solfatara Kodim, Tahar, Goblog, Tugu dan Taham serta untuk satu solfatara baru diberi nama Sarinem dan yang dua belum diberi nama


Daftar Acuan

· Syarifudin M. Z., 1978, Pemetaan Geologi Teliti Dataran Tinggi Ijen Jawa Timur, Laporan Proyek Penyelidikan Pengawasan Gunungapi, Bagian Proyek Penelitian dan Pemetaan Gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

· Kusumadinata, K., Hadian R., Hamidi, S., dan Reksowirogo, L., D., 1979, “Data Dasar Gunungapi Indonesia”, Direktorat Vulkanologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi, RI

· Kusumadinata, K., Hadian R., Hamidi, S., dan Reksowirogo, L., D., 1979, “Data Dasar Gunungapi Indonesia”, Direktorat Vulkanologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi, RI.

· Takkano, B, dkk, 2000, “Bathimetric and Geochemical study on Kawah Ijen Crater lake, in Java, Indonesia”, Abstract and address, General Assembly 2000, IAVCEI, Bali, Volcanological Survey of Indonesia.

· Sutaningsih, N. E. dkk , 2001, “Penyelidikan Pengaruh Unsur Vulkanik G. Ijen, (Penyelidikan Kimia Gas dan Survey Kependudukan Awal DI Gunung Ijen)”, Laporan Proyek, BPPTK, Yogyakarta

GEOKIMIA


Pada saat ini aktivitas vulkanik Gunung Ijen yang tampak di permukaan adalah berupa komplek solfatara dengan suhu mencapai 200°C, air danau kawah yang sangat asam dan mataair panas Sibenteng yang muncul dekat solfatara sebagai bagian dari manifestasi panasbumi. Geokimia Gunung Ijen meliputi : gas , air dan batuan.

Gas solfatara

1. Komposisi kimia gas solfatara Gunung Ijen terutama terdiri dari : H2O, CO2, H2S, HCl, SO2, N2, O2 dan H2, masing-masing dengan konsentrasi yang makin menurun. Prosentase H2O merupakan yang paling dominan.

2. Perubahan tingkat aktivitas vulkanik Gunung Ijen yang disebabkan oleh adanya perubahan suhu dan atau tekanan di kedalaman secara langsung ditunjukkan oleh adanya perubahan komposisi kimia gas. Hal ini dapat dilihat menjelang letusan preatik 6 Juni 2000, komposisi kimia pada bulan Mei 2000, dimana konsentrasi air turun sedangkan gas-gas lainnya meningkat. Komposisi kimia gas solfatara Ijen dapat dilihat pada tabel berikut :

Dari gas solfatara Gunung Ijen telah dapat diambil belerang dengan cara sublimasi yaitu melewatkan gas melalui pawon-pawon yang terbuat dari pipa baja berdiameter 20 cm dengan panjang masing- masing antara 2 m sampai 10 m.

Proses sublimasi adalah proses fisika yaitu perubahan fase dari gas belerang menjadi belerang padat yang disebabkan oleh adanya penurunan suhu. Khusus untuk senyawa belerang pada waktu terjadi penurunan suhu selain terjadi proses fisika juga terjadi proses kimia menurut reaksi :

2 H2S + SO2 ====== 2 H2O + 3 s

Tingkat pembentukan S tergantung pada kinetika reaksi dan oleh karena itu tergantung pada waktu tinggal (“residence time”) gas pada suhu yang lebih rendah dan kemungkinan adanya katalisator atrau unsur lain seperti uap air.

Air

Geokimia air di Gunung ijen dapat meliputi air danau kawah dan hulu Kali Banyupait, mataair panas serta mataair dingin.

Air danau Kawah Ijen

Visual Air Kawah Ijen

Air danau Kawah Ijen berwarna hijau muda, suhu 36 °C dan pH = 0,5 dengan DHL = 29.000 umhos/cm. Permukaan air berada pada ketinggian 2160 m (dpl), dari pengukuran jarak permukaan air ke Dam pada bulai Mei 2000 dan September 2000, permukaan air kawah mengalami penurunan sekitar 3 m. Uap air berketinggian sekitar 20 m dari permukaan air danau dan terasa pedih di mata. Belerang mrica terdapat menempel di dinding danau dan terapung di permukaan air di sebelah barat dana Kawah Ijen, yang merupakan hulu dari Kali Banyupait.

Karena kelarutan belerang sangat terbatas terutama dalam kondisi asam dan dalam kondisi oksidasi pertengahan, belerang akan mengendap dan sebagian terapung di permukaan air sebagai belerang mrica. Air danau Kawah Ijen adalah air meteorit/hujan yang mengandung ion-ion terlarut terutama anion dengan konsentrasi tinggi sehingga air tersebut mempunyai derajat keasaman yang sangat tinggi (pH = 0,5). Ion sulfat dan chlorida serta gas CO2 terlarut merupakan komponen utama yang berasal dari magmatik gas sedangkan kation Al, Fe, Ca, Mg, Na, K dan lainnya bersumber dari pelarutan batuan sekitarnya (country rock) yang disebabkan oleh sifat reaktivitas larutan asam tersebut.

Air danau Ijen merembes ke hulu Kali Banyupait yang berada di bagian barat danau melalui lapisan batuan piroklastik. Lokasi rembesan terdapat di dasar maupun di dinding hulu Kali Banyupait pada jarak dari danau dan ketinggian yang berbeda, kemudian bersatu membentuk aliran air Kali Banyupait. Pada lokasi munculnya rembesan maupun sepanjang Hulu Kali Banyupait yang dilewati aliran air tersebut terdapat gipsum/anhidrit yang telah terbentuk secara alami baik di dasar maupun di dinding hulu Kali Banyupait.

Pengukuran suhu permukaan air danau Ijen

Pemantauan suhu air danau kawah Ijen yang dilakukan oleh pengamat di Gunung Ijen setiap minggu. Kenaikan aktivitas ditunjukkan juga dengan adanya kenaikan suhu air danau di permukaan.

Komposisi kimia air Danau Kawah Ijen

Komposisi kimia air danau kawah Ijen merupakan fungsi dari aktivitas vulkanik yang terjadi dan pengenceran oleh air permukaan terutama pada musim hujan. Sebagai contoh perubahan yang terjadi akibat perubahan tingkat aktivitas di sajikan dalam tabel dibawah ini.

Batuan Beku

Lava-lava yang diambil dari dalam kaldera Gunung Ijen bervariasi dari basalt, basaltik andesit sampai andesit. Berwarna abu-abu hitam sampai abu-abu terang, bertekstur hipokristalin porfiritik. Fenokris berkisar antara 32 – 60 % dari volume batuan. Fenokris umumnya terdiri dari plagioklas, olivin klinopiroksin, orto piroksin dan oksida besi. Olivin terdapat melimpah dalam basalt dan makin berkurang dalam basaltik andesit. Biotit hanya terdapat dalam andesit gunung Gelaman sebagai fenokris. Hampir seluruh kristal-kristal dalam keadaan segar, hanya sebagian kecil nampak ada altrasi berupa kloritisasi, kaolinitisasi dan senoentisasi. Plagioklas merupakan fenokris utama pada lava-lava gunungapi Ijen, komposisi berkisar antara andesit – labradorit (An34 – An40).

Kandungan Silika berkisar antara 48,21 – 62,32 % berat. Hampir semua major elemen mempunyai hubungan negatif dengan SO2, kecuali K2O, Na2O dan P2O5. Kandungan trace elemen seperti Rb, Ba, Zr relatif meningkat dengan bertambahnya SiO2, sedangkan kandungan V dan Ni relatif menurun. Rendahnya harga-harga trace elemen (Ni, Sr, Cr) mencirikan magma gunung Ijen berasal dari magma turunan.

Komposisi kimia lava-lava dari dalam Kaldera Ijen (Sitorus, K., 1990) disajikan pada tabel dibawah ini.


Daftar Acuan

1. Rau H., Kutty T.R.N. and Guedes De Carvalho J.R.F., 1973, "Thermodynamics of Sulfur Vapor” J. Chem. Thermodynamiccs 5.833 – 844.

2. Sutaningsih, N. E. dkk , 2001, “Penyelidikan Pengaruh Unsur Vulkanik G. Ijen, (Penyelidikan Kimia Gas dan Survey Kependudukan Awal DI Gunung Ijen)”, Laporan Proyek, BPPTK, Yogyakarta.

2. Sutaningsih N.E. dkk, 2000, “Penyelidikan Geokimia di Gunung Ijen dan sekitarnya”, Proyek peningkatan Penyelidikan Kegunungapian Yogyakarta, BPPTK, Direktorat Vulkanologi, Yogyakarta

3. Mawardi R. Dan Irianto, 1993, “Laporan Petrokimia Batuan Kaldera Ijen, Jawa Timur”, Proyek Penyelidikan Gunungapi dan Panasbumi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

4. Sutaningsih N.E. dkk, 2000, “Penyelidikan Geokimia di Gunung Ijen dan sekitarnya”, Proyek peningkatan Penyelidikan Kegunungapian Yogyakarta, BPPTK, Direktorat Vulkanologi, Yogyakarta.

5. Sutawidjaya, I.S. dan Supartono, H, 1987, “Laporan Pengamatan dan Pemasangan RTS di Gunung Ijen", Proyek PPGPV, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

BAHAYA GUNUNGAPI


Sistem Pemantauan

Sistem pemantauan kegiatan vulkanik Gunung Ijen dilakukan dengan cara visual dan instrumental.

a. Pemantauan Visual

Pengamatan visual yang langsung dipantau dari Pos PGA antara lain : suhu udara, curah hujan arah angin, bau gas belerang, serta tinggi dan warna hembusan asap kawah. Pengamatan secara visual yang dilakukan secara rutin setiap minggu oleh pengamat Gunungapi Ijen dengan cara pemeriksaan puncak yang meliputi danau kawah yaitu : warna air danau kawah, suhu udara, suhu air permukaan danau, tinggi dan tekanan uap air danau kawah serta solfatara yang meliputi: asap solfatara, warna , tekanan dan bau gas dari solfatara

Gunung Ijen mempunyai danau kawah dengan derajat keasaman air yang sangat tinggi (pH = <>

b. Pemantauan Instrumental

Pemantauan aktivitas vulkanik secara terus menerus dilakukan dengan peralatan kegempaan. Pengukuran suhu solfatara, mataair panas Sibanteng dan suhu air danau dilakukan secara rutin seminggu sekali, sedangkan pengamatan instrumenal geokimia, dan geofifika lainnya dilakukan secara temporer.

Pemantauan kegempaan Gunung Ijen yang dilakukan secara menerus menggunakan seismograf system pancar (radio). Peralatan seismometer (penangkap gempa) dipasang di pinggir danau kawah sebelah utara (?), sedangkan recorder (perekam gempa) di tempatkan di Pos Pengamatan Gunungapi Ijen.

Biasanya jenis gempa yang terekam di GunungIjen adalah gempa tektonik (jauh dan dangkal), vulkanik (dalam dan dangkal), hembusan dan tremor. Pada kondisi normal jumlah gempa vulkanik A (dalam) maupun B (dangkal) nasing-masing kurang dari 5 kejadian dalam sehari. Aktivitas vulkanik Gunung Ijen dianggap meningkat bila jumlah gempa vulkanik baik dangkal maupun dalam masing-masing lebih dari 10 kejadian sehari, terutama bila diikuti oleh munculnya gempa tremor yang tercatat secara menerus.

Kenaikan suhu air danau kawah yang mendadak secara signifikan sampai 10 °C dapat menunjukkan adanya kenaikan aktivitas vulkanik, terutama bila kenaikan tersebut terjadi pada musim hujan.

DAFTAR PUSTAKA


Dokumentasi Peta

  1. Scematic Geologic Section through Raung – Ijen – Kendeng Mountain- Range, scale 1 : 100.000, oleh Hartman, E. Dr. 1917
    1. Geologic Investigation of the sluice of Kawah Ijen, oleh Hartman.E. Dr, 1917
    2. Geological sketch – Map of the crater lake of Kawah Ijen, scale 1 : 20.000, oleh Hartman.E. Dr, 1917
    3. Peta ikhtisar Kawah Ijen, skala 1 : 150.000 oleh Abdullah D.M. , 1959.
    4. Peta topografi Kawah Ijen dan Gunung Merapi Jawa Timur Skala 1 : 20.000, 1942.
    5. Peta daerah lahar skala 1 : 200.000, yang dikutip dari jawatan Pengairan Lumajang oleh Wikartadipura, 1971.
    6. Peta Geologi Skala 1 : 50.000, Direktorat Vulkanologi, Bandung, 1990
    7. Peta Geologi Kaldera Ijen, Jawa Timur skala 1 : 50.000, oleh Sjarifudin. M.Z. dkk, Direktorat Vulkanologi, Bandung.
    8. Peta daerah Bahaya Gunung Ijen, Jawa Timur, oleh Kaswanda et al, Direktorat Vulkanologi, 1993.
    9. Peta situasi topografi puncak dan Kawah Gunung Ijen Jawa Timur, skala 1 : 5.000, oleh Sobana dkk , Direktorat Vulkanologi, 1994
  2. Semua peta tersebut tersedia di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung.

    1. 11. Peta yang baru ada yang di keluarkan Bakosurtanal, Jakarta.

Daftar Pustaka

1. Kaswanda, O., Wikartadipura, S. Djuhara, A.,Martono, A. dan Sumpena, AD., 1993, Peta daerah bahaya Gunungapi Ijen, Jawa Timur. Direktorat Vulkanologi, Bandung.

· Kusumadinata, K., Hadian R., Hamidi, S., dan Reksowirogo, L., D., 1979, “Data Dasar Gunungapi Indonesia”, Direktorat Vulkanologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi, RI.

1. Mawardi,R dan Irianto, 1993, “Laporan Petrokimia Batuan Kaldera Ijen, Jawa Timur”, Proyek Penyelidikan Gunungapi dan Panasbumi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

2. Mulyadi E. Dan Wahyudin D. 1998, G. Ijen, Sejarah kegiatan, potensi bahaya dan wisata gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

3. Palgunadi dkk, 1992, “Penyelidikan struktur Gunung Ijen denganmenggunakan Metode Magnit”, Laporan Proyek Penyelidikan Gunungapi dan Panasbumi, Direktorat Vulkanologi, Bandung

4. Rau H., Kutty T.R.N. and Guedes De Carvalho J.R.F., 1973, Thermodynamics of Sulfur Vapor” J. Chem. Thermodynamiccs 5.833 – 844.

5. Simatupang, Y. S. Dkk, 1984, Geodinamika Gunungapi Komplek Gunungapi Kendeng (Ijen) – Raung, Jawa Timur, Laporan proyek Pengembangan Laboratorium Gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung

6. Sitorus, K., 1990, ” volcanic Stratigraphy and Geochemistry of Ijen Caldera complex, East-Java, Unpublished, Master Thesis, Victoria University of Welington, New Zealand.

7. Sumarti, S., 1998, “Volcanogenic Pollutants in Hyperacid River Discharge from Ijen Crater Lake, East Java, Indonesia, Thesis of Doctorandus-Degree in Geochemistry, Faculty of Earth Sciences, Utrecht University.

8. Sundoro, H., 1990, “A Study of The Stratigraphy , Volcanology and Geochemistry of Pyroclastic Rocks from The Ijen Caldera Complex East Java Indonesia, M.Sc. Thesis in Geology, Victoria University of Welington, New Zealand.

9. Sutaningsih, N. E. dkk , 2000, “Penyelidikan Geokimia Di Gunung Ijen dan Sekitarnya”, Laporan Proyek, BPPTK, Direktorat Vulkanologi Yogyakarta.

10. Sutaningsih, N. E. dkk , 2000, “Penyelidikan Geokimia Air Kawah Ijen di Kali Banyupait, Gunung Ijen, Jawa Timur”, Laporan Proyek, BPPTK, Direktorat Vulkanologi, Yogyakarta.

11. Sutaningsih, N. E. dkk , 2001, Penyelidikan Geokimia di Gunung Ijen dan Sekitarnya ( Pemetaan Geokimia air di Belawan), Laporan Proyek BPPTK, Direktorat Vulkanologi, Yogyakarta.

12. Sutaningsih, N. E. dkk , 2001, “Penyelidikan Pengaruh Unsur Vulkanik G. Ijen, (Penyelidikan Kimia Gas dan Survey Kependudukan Awal DI Gunung Ijen)”, Laporan Proyek, BPPTK, Direktorat Vulkanologi, Yogyakarta.

13. Sutawidjaya, I.S. dan Supartono, H, 1987, “Laporan Pengamatan dan Pemasangan RTS di Gunung Ijen, Proyek PPGPV, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

14. Syarifudin M. Z., 1978, Pemetaan Geologi Teliti Dataran Tinggi Ijen Jawa Timur, Laporan Proyek Penyelidikan Pengawasan Gunungapi, Bagian Proyek Penelitian dan Pemetaan Gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

15. Takkano, B, dkk, 2000, “Bathimetric and Geochemical study on Kawah Ijen Crater lake, in Java, Indonesia”, Abstract and address, General Assembly 2000, IAVCEI, Bali, Volcanological Survey of Indonesia.

16. Wikartadipura, S., 1971, “Laporan Pemeriksaan Daerah bahaya/waspada sementara Kawah Ijen pada lereng utara – timur, Dinas Vulkanologi, Bandung.

17. Yohana, T. dkk, 1992, “Penyelidikan gaya berat Gunung Ijen”, Laporan proyek Penyelidikan Gunungapi dan Panasbumi, Direktorat Vulkanologi, Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar