24 Oktober 2013

"KRAKATAU, 1883"

Referensi: Yasa Suparman, dkk. 2013. "Krakatau 1883; Pembelajaran di balik Letusan Katastropik". Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi - Badan Geologi, Bandung
LETUSAN KRAKATAU 1883
Krakatau merupakan kepulauan vulkanik yang berada di tengah-tengah Selat Sunda. Pada tahun 1883, Selat Sunda merupakan jalur lalu lintas laut strategis yang dapat dilalui kapal besar dan bersandar di Pelabuhan Anyer. Selat Sunda juga merupakan pintu masuk ke pelabuhan-pelabuhan lainnya. Karena posisinya sebagai jalur lalu lintas laut yang strategis maka terdapat banyak saksi dan laporan mengenai apa yang terjadi di Selat Sunda pada tahun 1883.
Krakatau pada awalnya dianggap sebagai "sebuah pulau", karena tidak ada sesuatu yang istimewa yang terjadi di pulau tersebut. Nama "Krakatau" diambil dari bahasa Sanskerta "Karkata" yang berarti kepiting (Verbeek, 1884). Kompleks vulkanik Krakatau terdiri dari empat pulau yaitu Krakatau, Cupu (Polish Hat), Pulau Sertung (Varlaten Eiland) dan Pulau Panjang (Lang Eiland). Krakatau, sebagai pulau yang paling besar, mempunyai tiga deret gunungapi dari utara ke selatan yaitu Perbuwatan, Danan dan Rakata. Pulau Krakatau mempunyai panjang 9 km dan lebar lebih dari 5 km, dengan luas area sekitar 33 km² (De Neve, 1981). Bagian paling utara yaitu Kawah Perbuwatan dengan tinggi 118 meter, tidak keterangan posisi geografisnya (Verbeek, 1885). Ketinggian Gunung Danan sekitar 443 meter pada posisi 105°26' BT - 6°7' LS, sedangkan kerucut Rakata mempunyai ketinggian 822 meter dengan posisi geografis 105°26'36" BT-6°8'50" LS.
Gempa Terasa pada 9 - 10 Mei 1883 tercatat di Mercusuar Tanjung Layar, Pantai Jawa Barat, dan getaran tremor tejadi berulang pada 17 Mei 1883. Gempa Terasa pada 15 - 20 Mei 1883 juga dirasakan di Ketimbang, bagian timur Pantai Lampung (De Neve, 1981). Pada Minggu pagi, 20 Mei 1883, Krakatau meletus, suara ledakan terdengar selama beberapa jam hingga Jakarta, Bogor dan Purwakarta di Jawa Barat, yang berjarak 160 - 230 km, serta di Bandar, Muaradua dan Palembang di Sumatera Selatan, yang berjarak 320 - 350 km. De Neve (1981) menyebutkan bahwa saksi mata dari letusan 20 Mei tersebut adalah seorang pemancing yang bernama Abdul Wahab, yang sedang menambatkan perahunya pada pagi sekitar pukul 06.00 - 10.00 WIB di sekitar G. Krakatau, dan melihat bahwa letusan berawal dari bagian utara G. Krakatau yaitu Perbuwatan. Kapal laut pertama yang berlabuh di Pelabuhan Anyer pada pagi itu adalah U.S A.R. Thomas, dimana bagian dek kapalnya tertutupi oleh abu vulkanik setebal hampir 4 cm. Enam kapal lautnya memberikan kesaksian terhadap kejadian di Selat Sunda pada 20 - 22 Mei 1883. Keterangan lainnya berasal dari buku catatan informasi dari kapal perang/ korvet Jerman yaitu "Elizabeth" yang tiba di Anyer pada pukul 09.00, setelah melakukan perjalanan selama 4 jam dari Hongkong. Disebutkan bahwa "Elizabeth" telah melihat kolom letusan yang sangat besar mencapai ketinggian 11 km di atas G. Krakatau. Pada tanggal 22 Mei teramati massa, seperti fragmen batu apung dalam jumlah yang sangat besar, terlempar dari Kawah Perbuwatan. Pada tanggal 23 Mei, terlihat banyak batu apung mengambang di laut sekitar G. Krakatau.
Pada tanggal 26 Mei 1883 kegiatan G. Krakatau menurun. Kondisi ini mendorong dilakukannya pelayaran dari Batavia (Jakarta) menuju G. Krakatau untuk melihat kondisi gunungapi tersebut dari jarak yang lebih dekat. Kapal "Gouverneur General Loudon", yang dipimpin oleh Schururman, berlayar dari Jakarta dan tiba di sekitar G. Krakatau pada pagi hari tanggal 27 Mei 1883. Letusan yang kuat berasal dari Kawah Perbuwatan terjadi kembali dan menyebabkan kondisi sekitarnya tertutup lapisan tebal abu vulkanik, batuapung dan debu. Kawah Perbuwatan berdiameter sekitar 1000 meter dengan kedalaman 40 meter dan ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Bentuk kawah menyerupai tapal kuda dengan bukaan ke arah utara. Pada dasar Kawah Perbuwatan teramati lubang terbuka yang mengeluarkan kolom asap dengan ketinggani sekitar 1200 meter. Di Pulau Panjang dan Cupu masih teramati vegetasi, tetapi Pulau Sertung dan Krakatau seluruhnya tertutup oleh abu vulkanik dan tidak teramati vegetasi. Aktivitas Krakatau terlihat menurun hingga pertengahan Juni dan menunjukkan bahwa periode letusannya akan berakhir.
Pada tanggal 19 Juni terjadi letusan yang tidak hanya berasal dari Kawah Perbuwatan, tetapi juga dari Danan serta bagian tengah Pulau Krakatau. Letusan ini mengakibatkan hilangnya sebagian G. Perbuwatan. Sekitar tanggal 9 - 12 Juli dilaporkan masih terdapat aktivitas dari G. Perbuwatan dan G. Danan serta aktivitas baru pada bagian selatan G. Krakatau. Ferzenaar (1888) menyebutkan bahwa dari hasil tinjauannya ke Krakatau pada 11 Agustus 1883, teramati tiga rekahan di Kawah Perbuwatan; Danan dan bagian selatan lereng Danan. Selain itu ditemukan empat kawah dan beberapa lokasi fumarol di bagian tengah Krakatau.
Peta Sketsa Krakatau yang dibuat H. J. G. Ferzenaar pada 11 Agustus 1883. 'A' merupakan Puncak Rakata, 'B', 'D' dan 'E' merupakan kawah. Warna merah mengindikasikan rekahan aktif. Rakatakecil adalah nama lain dari Pulau Panjang (dimodifikasi dari Simkin & Fiske, 1983).
Catatan aktivitas G. Krakatau pada akhir Agustus 1883 diperoleh dari catatan kapal laut yang berlayar melintas Selat Sunda pada minggu akhir bulan Agustus (De Neve, 1981). Catatan pertama bersumber dari kapal "Medea" yang berlayar di Selat Sunda pada tanggal 22 - 26 Agustus, yang menyebutkan bahwa letusan pertama terjadi pada 26 Agustus pukul 14.00 dan letusan-letusan susulan terjadi tiap 10 menit. Pada pukul 17.00 terjadi letusan besar dengan kolom asap mencapai ketinggian 27 km dan di susul oleh letusan dengan ketinggian sekitar 33.5 km. Kota Anyer dan Selat Sunda berubah gelap akibat abu letusan. Letusan yang terjadi pada pukul 14.00 terdengar hingga jarak 160 - 240 km, sedangkan letusan pada pukul 17.00 terdengar hingga di ujung timur Pulau Jawa, sekitar 1120 km dari sumbernya (De Neve, 1981). Fragmen batuapung berukuran besar, jatuh hingga jarak 16 - 20 km dari G. Krakatau dan letusan terus berlangsung sepanjang malam. Laporan yang sama disebutkan juga pada catatan kapal perang Inggris "Charles Bal" dan kapal "Gouverneur Generaal Loudon" yang berlayar di Selat Sunda pada tanggal 26 Agustus 1883.
Pada tanggal 27 Agustus 1883, letusan masih terus terjadi sejak tengah malam hingga dini hari pukul 04.00. Kemudian terjadi letusan yang sangat besar pada pukul 05.30, dan waktu tiba gelombang udara terekam pukul 05.43 di Batavia Gas Works. Gelombang tsunami mencapai Teluk Betung (Bandar Lampung) pada pukul 06.30. Dampak dari tsunami tersebut, Merak; Anyer dan Caringin hancur dan 10.000 orang meninggal terseret gelombang air akibat letusan Krakatau. Letusan besar juga terjadi pada pukul 06.44, terekam di Batavia gauge records air wave pada pukul 06.57. Stehn (1929) menyimpulkan bahwa rangkaian letusan tersebut telah menghancurkan Perbuwatan yang terletak di sebelah utara Pulau Rakata. Letusan paling besar terjadi pada pukul 10.02 dan terekam pada Gasometer di Jakarta pada pukul 10.15. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu letusan mencapai ketinggian 92.6 km, hujan abu terjadi pada area dengan luas lebih dari 820 ribu kilometer persegi (Simkin & Fiske, 1983; De Neve, 1981). Letusan besar lainnya terjadi pada pukul 10.52 dan 16.24 (De Neve, 1981). Letusan pada pukul 10.02 dan pukul 10.52 telah menghancurkan Danan dan sebagian dari Rakata (Stehn, 1929). Kelima letusan besar tersebut menyebabkan Perbuwatan, Danan dan sebagian besar dari Rakata hilang. Letusan G. Krakatau terdengar jelas di Singapura dan Australia bahkan sampai ke Pulau Rodriguez, sekitar Teluk Madagaskar, yang berjarak 5524 km dari Krakatau serta menimbulkan gelombang tsunami dan aliran piroklastika.
Sekuen dari laporan letusan, tsunami dan aliran piroklastik pada 26 - 27 Agustus 1883. Besarnya magnituda letusan, yang terekam di Gasometer Batavia, secara relatif ditunjukkan oleh panjangnya panah. Tinggi kolom letusan ditunjukkan pada sumbu Y (dimodifikasi dari Self dan Rampino, 1981)
Tekanan gas tinggi mengakibatkan hilangnya Perbuwatan, Danan, dan sebagian Rakata serta menyemburnya jutaan meter kubik material batuapung yang menghempaskan air laut sehingga menimbulkan gelombang pasang (tsunami) dengan ketinggian lebih dari 30 meter, merusak pulau-pulau di Selat Sunda dan sepanjang pantai Lampung Selatan dan Jawa Barat. Di Teluk Betung ketinggian gelombang tsunami mencapai 26 meter, dan menyeret kapal laut "Berauw" sejauh 2 km ke darat. Ketinggian gelombang di Selat Sunda sekitar 19,5 - 30 meter, dan di Pantai Merak mencapai lebih dari 39 meter. Letusan G. Krakatau tahun 1883 tersebut juga menghasilkan aliran piroklastik serta surge yang bergerak diatas permukaan laut. De Neve (1984) dalam Sutawidjaja (2006) menyebutkan bahwa letusan G. Krakatau pada Agustus 1883 tersebut sebanding dengan 21.574 kali kekuatan bom atom dan menyebabkan perubahan iklim global. Bumi mengalami kegelapan selama dua setengah hari akibat abu vulkanik yang menutupi atmosfer. Suhu udara di beberapa wilayah bumi selama lebih dari satu tahun lebih dingin akibat sinar matahari terhalang abu vulkanik.
Perubahan morfologi terjadi pada Komplek G. Krakatau antara sebelum dan sesudah letusan tahun 1883. Perubahan tersebut dipetakan pada September 1883. Setelah terjadi letusan, bagian utara dari G. Rakata hilang sedangkan Pulau Panjang dan Pulau Sertung bertambah besar akibat material jatuhan batuapung yang mempunyai ketebalan mencapai 60 – 80 meter pada pulau tersebut. Pulau Steers dan Calmejer di Selat Sunda terbentuk dari batuapung hasil produk letusan, yang kemudian setelah beberapa tahun menghilang akibat erosi. Pendangkalan akibat pengendapan produk letusan juga terjadi di laut sekitar G. Krakatau.
Verbeek (1885) menyebutkan bahwa luas G. Rakata yang hilang adalah 22.851 km². Penambahan area Rakata di bagian selatan yang merupakan material produk letusan mempunyai luas 4.647 km² dan luas total Rakata pada Oktober 1883 adalah 15.332 km². Luas Pulau Sertung sebelum letusan 3.716 km² menjadi 11.810 km² setelah letusan Agustus 1883. Pulau Panjang yang awalnya memiliki luas 2.897 km² menjadi 3.203 km².
ALIRAN PIROKLASTIKA
Aliran piroklastika adalah hasil letusan gunungapi yang berupa campuran batuan dan gas bersuhu tinggi, (> 400ºC), dan mempunyai kecepatan tinggi. Aliran piroklastika biasanya berasosiasi dengan surge. Surge merupakan campuran material halus dan gas yang dapat bergerak cepat dengan suhu lebih dari 200ºC. Pada suatu aliran, surge berada di bagian atas dan depan aliran piroklastika, serta alirannya tidak dikontrol oleh topografi, tidak demikian halnya dengan aliran piroklastik yang dikontrol oleh topografi. Jejak aliran piroklastik akibat letusan Krakatau pada Agustus 1883 terekam pada endapan aliran piroklastik yang ditemukan di Pulau Sebesi, Sebeku dan Lagoendi, di utara Krakatau.
Distribusi endapan aliran piroklastika Letusan Krakatau 1883 (dimodifikasi dari Carey, et al., 1996)
Verbeek (1885) menyebutkan bahwa area yang terkena aliran piroklastika dan surge mengalami kehancuran total. Diperkirakan 2000 orang tewas di Sumatera bagian selatan oleh "abu panas" atau surge dan 3150 jiwa meninggal akibat terkena aliran piroklastik pada pulau-pulau antara Krakatau dan Sumatera (Kusumadinata, 1979). Pada pagi hari tanggal 27 Agustus 1883, beberapa saksi mata menuturkan adanya keganjilan pada letusan Krakatau ketika pantai selatan Sumatera terlanda abu panas dan keadaan menjadi sangat gelap (Furneaux, 1964). Saksi mata yang berada di Bukit Rajabasa menyaksikan abu panas yang membakar apapun yang dikenainya. Beberapa kesaksian lain mengenai terjadinya badai serta abu di atas permukaan laut pada pagi hari tanggal 27 Agustus, ditemukan dalam buku catatan kapal laut yang berada di Selat Sunda pada 26 - 27 Agustus. Kapal Loudon yang berada sekitar 65 km sebelah utara - timurlaut Krakatau menyebutkan bahwa kapal tersebut terkena badai dan jatuhan tephra pada pukul 10.30, hujan abu yang sebelumnya kering berubah menjadi hujan lumpur yang sangat deras dimana tebalnya mencapai 15 cm hanya dalam waktu 10 menit. Kapal laut W.H. Besse yang berjarak sekitar 80 km sebelah timur - timurlaut Krakatau mengalami hal yang serupa dan disertai bau sulfur menyengat (Carey, dkk., 1996). Aliran piroklastika letusan Krakatau mengalir di atas permukaan laut ke segala arah sepanjang 40 - 80 km dari pusat letusan dan luas area yang terkena dampak sekitar 4000 km² (Carey, dkk., 2000).
Arah Aliran Piroklastik pada 27 Agustus 1883 (dimodifikasi dari Valentin & Fisher, 2000)
TSUNAMI
Tsunami besar akibat letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 terjadi pada pagi hari, sekitar pukul enam, dan setelah terjadi letusan terbesar pukul 10.02. Furneaux, 1964, memperoleh keterangan bahwa dentuman Krakatau terdengar di Teluk Betung sesaat setelah pukul 10.00 dan gelombang pasang mencapai kota Teluk Betung pukul 11.03, mengakibatkan kerusakan berat kota tersebut dan mengakibatkan korban ± 5000 jiwa, diantaranya 3 orang kebangsaan Eropa dan 2.260 orang penduduk setempat. Kota Merak yang terletak di Semenanjung Banten, dilanda gelombang pasang setinggi 30 m dan 40 m. Gelombang pasang ini juga menyapu Teluk Semangko sesaat setelah memporakporandakan Teluk Betung, namun gelombangnya tidak setinggi yang ke arah Teluk Betung. Tetapi gelombang tersebut cukup menghancurkan daerah sepanjang garis pantai dan merusak banyak perkampungan serta mengakibatkan korban jiwa, diantaranya 2.500 penduduk tewas di Kampung Benewani, 327 hilang di Tanjungan dan Tanot Baringin serta 244 jiwa di Beteong. Di Banten, seluruh pantainya terlanda gelombang pasang, mengakibatkan rusaknya banyak perkampungan dan menewaskan penduduk. Pada peristiwa ini tercatat 1.974 penduduk setempat tewas (Kusumadinata, 1979). Walaupun belum ada kota-kota besar disepanjang pantai, tetapi 297 kota kecil (kota kecamatan) hancur terlanda tsunami yang menewaskan 36.417 jiwa (De Neve, 1981; Kusumadinata, 1979).
Daerah yang diarsir merah merupakan daerah terlanda tsunami Agustus 1883 (dimodifikasi dari Verbeek, 1885 dalam Simkin & Fiske, 1983)
Verbeek (1884 dan 1885) mempelajari tsunami Letusan Krakatau Agustus 1883, melalui catatan gelas ukur dari seratus pelabuhan dan menyimpulkan bahwa efek tsunami menyebar ke seluruh dunia. Ia berpendapat bahwa kecepatan penyebaran tsunami bergantung pada kedalaman laut dan samudera. Efek resonansi dan kembalinya tsunami mengakibatkan erosi dan pengendapan sedimen di dasar laut secara bergantian.
Pada watergauge di Tanjung Priuk, Jakarta tercatat bahwa antara 27 Agustus pukul 12.00 dan 28 Agustus pukul 24.00, terjadi 18 kali gelombang air pasang yang berhubungan dengan letusan Krakatau (Verbeek, 1884 dalam Sutawidjaja, 2006). Ia menyebutkan bahwa pada 27 Agustus, pukul 12.16 terjadi gelombang pertama dengan ketinggian lebih dari 2 m. Gelombang tertinggi tercatat 3,15 m pada pukul 12.30, kemudian menurun pada pukul 13.30 menjadi 2.35 m. Pada pukul 14.30 kembali tercatat gelombang pasang setinggi 1.95 m dan menurun menjadi 1,5 m. Gelombang pasang berikutnya terjadi pada pukul 16.30 setinggi 1,25 m dan menurun pada pukul 17.30 setinggi 0.4 m. Verbeek (1884) juga mencatat bahwa di Padang, Sumatera Barat, tsunami terjadi pertama kali pada pukul 13.25, kemudian disusul gelombang kedua pada pukul 14.20. Gelombang ketiga merupakan gelombang tertinggi, 3.52 m terjadi pada pukul 15.12. Antara 27 Agustus, pukul 12.00 sampai 28 Agustus, pukul 7.30 tercatat 13 kali gelombang air pasang.
Berdasarkan berita yang dihimpun dari laporan seluruh dunia, Verbeek (1885) memperhitungkan bahwa penyebaran tsunami yang tertinggi mempunyai kecepatan antara 540 sampai 810 km/jam. Tsunami mengelilingi dunia dari Krakatau ke arah barat dan timur, kemudian dipantulkan kembali sebanyak 6 kali dari catatan watergauge yang terpasang di seluruh dunia. Gelombang tsunami akibat erupsi Krakatau ini juga bergerak ke arah barat menuju Samudera Hindia mencapai Cape of Good Hope, Afrika Selatan, kemudian ke arah utara menuju menuju Samudera Atlantik. Gejala tsunami ini juga ditemukan di Cape Town, Afrika Selatan, sejauh 13.032 km dari G. Krakatau dan hampir teramati di seluruh pantai di sekitar Samudera Hindia dan Samudera Atlantik. Pengukur tinggi gelombang di Pelabuhan Cape Horn, Chili (14.076 km) dan Panama (20.646 km) menunjukkan terjadinya gelombang pasang dengan kecepatan rata-rata 720 km per jam, bahkan dilaporkan bahwa tsunami tersebut mencapai Selat Inggris yang berjarak 19.873 km dari Krakatau (Kusumadinata, 1979).
Tsunami terbesar yang terjadi akibat Letusan G. Krakatau tahun 1883 terekam di watergauge Tanjung Priuk, Jakarta, pada pukul 12.16 dan 12.30. Yokoyama (1987) melakukan pemodelan penjalaran gelombang tsunami dan menyebutkan bahwa tsunami yang terekam di watergauge Tanjung Priok berasal dari letusan Krakatau pukul 09.46 dan 10.07 (Yokoyama, 1987), dan membutuhkan waktu sekitar 150 ± 10 menit untuk mencapai Tanjung Priok.
Beberapa pendapat dikemukakan mengenai penyebab terjadinya tsunami. Stehn (1939) mengemukakan bahwa tsunami terjadi akibat runtuhan gunung api atau longsoran di dasar laut oleh pengosongan magma dan gas. Runtuhan ini menekan air laut sehingga menyebabkan terjadinya tsunami yang menyapu pantai barat Jawa dan pantai selatan Sumatera. Pendapat lain menyimpulkan bahwa tsunami terjadi akibat runtuhan sektoral dari bagian utara G. Rakata dalam skala yang besar (Verbeek, 1885; Self & Rampino, 1981; Camus & Vincent, 1983).
Simulasi penjalaran gelombang tsunami pada Letusan Karakatau Agustus 1883 (dimodifikasi dari Yokoyama, 1987)
Francis (1985) menyebutkan empat mekanisme penyebab tsunami yaitu: lateral blast, longsornya sebagian besar tubuh Rakata bagian utara, letusan bawah laut dan aliran awan panas/ aliran piroklastika. Yokoyama (1987) mengemukakan bahwa penyebab tsunami berkatian dengan letusan bawah laut yang menerus dan terjadi secara terus menerus selama 20 - 30 menit. Kejadian tersebut menimbulkan gelombang air yang sangat besar yang selanjutnya menjadi tsunami.
PRODUK LETUSAN KRAKATAU 1883
Verbeek (1885) memperkirakan sejumlah 18 km³ abu dan material vulkanik lain dilontarkan setinggi 50 - 90 km dan diendapkan sebagai hasil dari letusan G. Krakatau 1883. Abu mulai jatuh di Jakarta pada tanggal 27 Agustus 1883 pukul 10.39, dan hujan abu semakin hebat sejak pukul 12.30 yang membuat hari menjadi gelap sampai pukul 13.00 (De Neve, 1981). Pada daerah di sekitar Krakatau, terjadi kegelapan total selama 2.5 hari. Endapan produk letusan dengan ketebalan rata-rata 30 meter terendapkan dalam radius 15 km dari Krakatau. Ketebalan abu berkisar 1 - 5 cm di Pantai Jawa, dan kurang dari 0.5 cm di Jakarta dan Bogor, sedangkan ketebalan abu di Lampung mencapai 20 cm. Produk letusan didominasi oleh batuapung dimana pada pulau-pulau sekitar Kompleks Krakatau, ketebalannya mencapai 60 - 80 meter. R. Breon, pemimpin ekspedisi Perancis, yang melakukan ekspedisi ke Krakatau pada Mei 1884 menyebutkan bahwa ketebalan produk letusan di bagian barat Pulau Krakatau mencapai 80 meter (Simkin & Fiske, 1983).
Sebaran abu Letusan Krakatau 1883. Angka menunjukkan ketebalan abu dalam milimeter (dimodifikasi dari Verbeek, 1885 dalam Simkin & Fiske, 1983).
Partikel abu vulkanik halus mencapai atmosfir dan tertiup ke arah barat dengan kecepatan sekitar 121 km/ jam, sehingga dalam waktu 14 hari mengelilingi daerah yang luas sepanjang khatulistiwa dan dalam waktu 6 minggu penyebaran abu mencapai garis lintang 30º Utara dan 45º Selatan (Winchester, 2003). Abu vulkanik yang tersebar di atmosfir Kanada mengakibatkan terjadinya efek warna-warni karena pemantulan cahaya matahari dan mempengaruhi iklim setempat. Pengaruh tersebut mencapai puncaknya pada Desember 1883. Fenomena tersebut dilukis oleh Frederic Edwin Church dengan judul “Sunset over the ice on Chaumont Bay, Lake Ontario”. Kejadian ini secara berangsur berubah dan terjadi dalam waktu yang lama. Kondisi normal kembali pada tahun 1886.

26 Maret 2013

"POSISI DAN DELINEASI SUMBER ANOMALI MAGNETIK KOMPLEK VULKANIK G. DIENG"

Kompleks Vulkanik G. Dieng merupakan produk dari pembentukan kaldera. Aktivitas vulkanik di daerah ini berupa menifestasi fumarol, mofet, solfatara dan lumpur panas di permukaan. Aplikasi dekonvolusi Euler dan filter turunan horiosontal total dari tilt angle dilakukan pada nilai magnetik total G. Dieng untuk mengetahui gambaran sumber bawah permukaan, mempertajam serta mendelineasi anomali magnetik. Aplikasi denkonvolusi Euler menunjukkan bahwa sumber menyebar pada daerah survey dengan nilai struktur indeks didominasi oleh nilai 0.2 – 0.7 dan pada beberapa sumber terlihat adanya kemenerusan nilai struktur indeks 0 – 1.8 yang diinterpretasikan berhubungan dengan sumber berupa patahan atau batas/ kontak dan dike/ sill. Delineasi anomali magnetik dengan menerapkan filter Turunan Horisontal Total dari Tilt Angle (THDR) menunjukkan adanya kemenerusan dengan arah Barat – Timur (Baratlaut Barat – Timur Tenggara) dan Utara Selatan (Utara Timurlaut – Selatan Baratdaya).

27 Januari 2013

"Comparison of Focal Mechanisms and Source Parameters of Volcano-tectonic Earthquakes between Active and Normal Periods at Lokon Volcano, North Sulawesi, Indonesia"

Lokon volcano complex as a part of Sangihe arc system is located in Tomohon City - Minahasa Regency - North Sulawesi, Indonesia. Increase in seismic activity began in June 2007. The number of volcanic earthquake increased rapidly and volcanic tremor was recorded continuously on 7 December 2007. After the activity, seismicity decreased gradually until the end of May 2008. We compared characteristic of VT earthquake during active period in December 2007 and normal period in May 2008. VT earthquakes were distinguished into two types, the deep type (VTA) and shallow type (VTB). Hypocenter in December 2007 composed of 3 cluster at depths 300 – 600 m, 600 – 1100 m and 1100 – 1400 m beneath the crater. Deep one corresponds to VTA type, middle and shallow are hypocenters of VTB type. Seismicity in the middle cluster (deep VTB) was high in December 2007, however it declined significantly in normal period in May 2008. This cluster may correspond temporal shallow magma storage. Focal mechanism of VT earthquakes was estimated assuming double couple. Mechanism of VTA is normal fault with tension axis nearly N-S direction, both in active and normal periods. It is interpreted to be related to inflation of magma storage at depth 4 – 6 km due to magma migration from deeper part. Focal mechanisms of VTB were reverse fault in active period whereas normal fault in normal period. In the active period, reverse fault type was caused by contraction stress due to depression of shallow magma storage by emission of gas.
Sketch of magma system of Lokon Volcano in December 2007, as active period

"Source mechanisms of high frequency earthquake at Soputan Volcano"

Moment tensor analysis have been conducted to understand the source mechanism of earthquakes in Soputan Volcano during October - November 2010 period. The record shows shallow earthquakes with frequency about 5 - 9 Hz. Polarity distribution of P-wave first onset indicates that the recorded earthquakes are predominated by earthquakes where almost at all stations have same direction of P-wave first motions. In this article, the source mechanism is described as the second derivative of moment tensor, approached with first motion amplitude inversion of P-wave at some seismic stations. The result of moment tensor decomposition are predominated by earthquakes with big percentage in ISO and CLVD component. Focal mechanism shows that the recorded earthquakes have the same strike in Southwest-Northeast direction with dip about 220 - 250 degrees. The sources of the high frequency shallow earthquakes are in the form of tensile-shear cracks or a combination between crack and tensile faulting.
full paper link

25 November 2010

Agung

AGUNG, Pulau Bali
Compiler : Cecep Sulaeman (cecep@vsi.esdm.go.id)

Editor : Syamsul Rizal Wittiri


Keterangan Umum

Nama

:

G. Agung

Nama Lain

:

Piek Van Bali, Piek of Bali, Agung, Gunung Api

Lokasi

a. Koordinat

b. Geografi

:

:

08°20,5' Lintang Selatan dan 115°30,5' Bujur Timur

Kec. Rendang, Kab. Karangasem, Pulau Bali.

Ketinggian

:

3014 m di atas muka laut setelah letusan 1963

Kota Terdekat

:

Karangasem

Tipe Gunungapi

:

Strato

Pos Pengamatan

:

1. Rendang (8°25,5' LS, 115°26')

2. Budakeling (8°23,5' LS, 115°26')

3. Batulompeh (8°15' LS, 115°30')

Pendahuluan

Cara pencapaian

Dapat dilakukan dari tiga jurusan:

(1) dari Pasar Agung (selatan puncak)

(2) dari Budakeling lewat Nangka (tenggara puncak)

(3) dari Besakih (baratdaya puncak)

Pendakian dari Pasar Agung

Dari sisi selatan, Pasar Agung ke tepi kawah pendakian dapat dicapai lk.3 jam. Pasar Agung dapat dicapai dari Selat dengan kendaraan bermotor roda empat.

Pendakian dari Budakeling lewat Nangka

Dilakukan dari Nangka (lk. 700 m dpl) yang dapat dicapai dengan kendaraan bermotor roda empat dari Karangasem melalui Budakeling. Pendakian melalui Pura Puseh lewat Pura Plawangan ke Pura Telaga Mas, kemudian ke Tirtadasar sampai di batas hutan di Pengubengan. Dari sini hanya dibutuhkan 1 - 2 jam pendakian hingga di tepi kawah sebelah tenggara. Pendakian seluruhnya memakan waktu 4 - 5 jam.

Pendakian dari Besakih

Perjalanan dilanjutkan hingga ke tempat perkemahan yang terletak pada garis ketinggian 2500 m, tempat ini dicapai lk. 4 jam pendakian. Pendakian terakhir lewat suatu punggung yang datar hingga dicapai tepi kawah sebelah barat. Pendakian melalui Besakih memerlukan waktu 5 – 6 jam.

SEJARAH LETUSAN


Letusan G. Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800, seperti diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Catatan Letusan G. Agung

Tahun letusan

Kegiatan

1808

Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa

1821

Terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan

1843

Letusan didahului oleh gempa bumi. Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batu apung. Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola.

1963

Letusan dimulai tangga 18 Pebruari 1963 dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964. Letusan bersifat magnatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Karakter Letusan

Pola dan sebaran hasil letusan lampau sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, diantaranya adalah bersifat eksplosif (letusan, dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava (Sutukno B., 1996).

Periode Letusan

Dari 4 kejadian letusan masa lampau, periode istirahat G. Agung dapat diketahui yakni terpendek 16 tahun dan terpanjang 120 tahun, seperti terlihat pada tabel di bawah.

Periode istirahat G. Agung

Tahun Letusan

Periode Istirahat (tahun)

1805

1821

16

1843

22

1963

120

Letusan 1963

Kronologi Letusan tahun 1963

Lama letusan G. Agung tahun 1963 berlangsung hampir 1 tahun, yaitu dari pertengahan Pebruari 1963 sampai dengan 26 Januari 1964, dengan kronologinya seperti diperlihatkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kronologi letusan tahun 1963

Waktu

Kegiatan

16 Pebruari 1963

Terasa gempa bumi ringan oleh penghuni beberapa Kampung Yekhori (lk. 928 m dari muka laut) di lereng selatan, kira-kira 6 km dari puncak G. Agung.

17 Pebruari 1963

Terasa gempa bumi di Kampung Kubu di pantai timur laut kaki gunung pada jarak lk. 11 km dari lubang kepundannya

18 Pebruari 1963

Kira-kira pukul 23.00 di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah

19 Pebruari 1963

Pukul 01.00 terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang

Pukul 03.00 terlihat awan yang menghembus dari kepundan,makin hebat bergumpal-gumpal dan dua jam kemudian mulai terdengar dentuman yang nyaring untuk pertama kalinya. Suara yang lama bergema ini kemudian disusul oleh semburan batu sebesar kepalan tangan dan diakhiri oleh sembuaran asap berwarna kelabu kehitam-hitaman .

Sebuah bom dari jauh tampak sebesar buah kelapa terpisah dari yang lainnya dan dilontarkan lewat puncak ke arah Besakih.

Penghuni Desa Sebudi dan Nangka di lereng selatan mulai mengungsi, terutama tidak tahan hawa sekitarnya yang mulai panas dan berbau belerang itu.

Di sekitar Lebih, udara diliputi kabut, sedangabu mulai turun. Air di sungai mulai turun. Air di sungai telah berwarna coklat dan kental membawa batu dengan suara gemuruh, tanda lahar hujan permulaan. Penghuninya tetap tenang dan melakukan persembahyangan.

Pukul 10.00 terdengar lagi suara letusan dan asap makin tebal. Pandangan ke arah gunung terhalang kabut, sedang hujan lumpur mulai turun di sekitar lerengnya.

Di malam hari terlihat gerakan api pada mulut kawah, sedangkan kilat sambung-menyambung di atas puncaknya.

20 Pebruari 1963

Gunung tetap menunjukkan gerakan berapi

06.30 terdengar suara letusan & terlihat lemparan bom lebih besar.

07.30 penduduk Kubu mulai panik, banyak diantara mereka mengungsi ke Tianyar, sedangkan penghuni dari lereng selatan pindah ke Bebandem dan Selat.

21 Pebruari 1963

Asap masih tetap tebal mengepul dari kawah.

Pukul 12.30 tampak leleran lava ke arah Blong di utara

22 Pebruari 1963

Kegiatan terus menerus berupa letusan asap serta loncatan api dan suara gemuruh.

23 Pebruari 1963

Pukul 08.30 sekitar Besakih, Rendang dan Selat dihujani batu kecil serta tajam, pasir serta abu.

24 Pebruari 1963

Hujan lumpur lebat turun di Besakih mengakibatkan beberapa bangunan Eka Dasa Rudra roboh. Penduduk Temukus mengungsi ke Besakih. Awan panas letusan turun lewat Tukad Daya hingga di Blong.

25 Pebruari 1963

Pukul 15.15 awan panas turun di sebelah timurlaut lewat Tukad Barak dan Daya. Lahar hujan di T. Daya menyebabkan hubungan antara Kubu dan Tianyar terputus. Desa Bantas-Siligading dilanda awan panas mengakibatkan 10 orang korban. Lahar hujan melanda 9 buah rumah di Desa Ban , korban 8 orang.

26 Pebruari 1963

Lava di utara tetap meleler. Lahar hujan mengalir hingga di Desa Sogra, Sangkan Kuasa. Asap tampak meningkat dan penduduk Desa Sogra, sangkan Kuasa, Badegdukuh dan Badegtengah mengungsi ke selatan.

Di Lebih hujan yang agak kental dan gatal turun. Lahar terjadi di sekitar Sidemen. Juga lahar mengalir di utara di T. Daya dan T. Barak. Pukul 18.15 hujan pasir di Besakih. Pangi diliputi hawa belerang yang tajam sekali.Penduduknya mengungsi ke Babandem. Kemudian kegiatan G. Agung ini terus menerus berlangsung, boleh dikatakan setiap hari hujan abu turun, sementara sungai mengalirkan lahar dan lava terus meleler ke utara.

17 Maret 1963

Merupakan puncak kegiatan. Tinggi awan letusan mencapai klimaksnya pada pk. 05.32. Pada saat itu tampak awan letusannya menurut pengamatan dari Rendang sudah melewati Zenith dan keadaan ini berlangsung hingga pukul 13.00. Awan panas turun dan masuk ke T. Yehsah, T. Langon, T. Barak dan T. Janga di selatan. Di utara gunung sejak pukul 01.00 suara letusan terdengar rata-rata setiap lima detik sekali. Awan panas turun bergumpal-gumpal menuju T. Sakti, T. Daya dan sungai lainnya di sebelah utara. Mulai pukul 07.40 lahar hujan terjadi mengepulkan asap putih, dan ini berlangsung hingga pukul 08.10.

Pukul 08.00 turun hujan abu, pada pukul 09.20 turun hujan kerikil, dan sementara itu awan panas pun turun bergelombang.

Pada pukul 11.00 hujan abu makin deras hingga penglihatan sama sekali terhalang.

Pada pukul 12.00 lahar yang berasap putih itu mulai meluap dari tepi T. Daya. Baru pukul 12.45 hujan abu reda dan kemudian pukul 15.30 suara letusan pun berkurang untuk selanjutnya hilang sama sekali.

Adapun sungai yang kemasukan awan panas selama puncak kegiatan ini adalah sebanyak lk. 13 buah di lereng selatan dan 7 buah di lereng utara. Jarak terjauh yang dicapainya adalah lk.14 km, ialah di T. daya di utara. Sebelah barat dan timur gunung bebas awan panas.

Lamanya berlangsung paroksisma pertama ini yakni selama lk. 10 jam yakni dari pukul 05.00 hingga pukul 15.00.

21 Maret 1963

Kota Subagan, Karangasem terlanda lahar hujan hingga jatuh korban lk. 140 orang. Setelah letusan dahsyat pada tanggal 17 Maret ini,amka aktivitasnya berkurang, sedang suara gemuruh yang tadinya terus menerus terdengar hilang lenyap. Demikian leleran lava ke utara berhenti pada garis ketinggian 501,64 m dan mencapai jarak lk. 7.290 m dari puncak.

16 Mei 1963

Paroksisma kedua diawali oleh letusan pendahuluan, mula-mula lemah dan lambat laun bertambah kuat. Pada sore hari 16 Mei, kegiatan meningkat lagi terus meneru, hingga mencapai puncaknya pada pukul 17.07. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00.

Nopember 1963

Tinggi asap solfatara/fumarola mencapai lk. 500 m di ats puncak. Sejak Nopember warna asap letusan adalah putih.

10 Januari 1964

Tinggi hembusan asap mencapai 1500 m di atas puncak

26 Januari 1964

Pk. 06.50 tampak kepulan asap dari puncak G. Agung berwarna kelabu dan kemudian pada pukul 07.02, 07.05 dan 07.07 tampak lagi letusan berasap hitam tebal serupa kol kembang, susul menyusul dari tiga buah lubang, mula-mula dari sebelah barat lalu sebelah timur mencapai ketinggian maksimal lk. 4.000 m di atas puncak. Seluruh pinggir kawah tampak ditutupi olaeh awan tersebut. Suara lemah tetapi terang terdengar pula.

27 Januari 1964

Kegiatan G. Agung berhenti

Produk Letusan 1963

Lahar Hujan

Sesuai dengan letak geografi dari G. Agung yang bertindak sebagai penangkap hujan angin tenggara yang menghembus, lahar besar dimulai di lereng utara, kemudian di lereng timur menenggara untuk kemudian lambat laun bergeser ke jurusan barat dan mencapai klimaksnya di lereng selatan baratdaya. Lahar besar ke selatan mulai meluas pada ketinggian 500 m antara Rendang dan padangkerta. Kemudian di bawah T. jangga, yakni di T. Krekuk dan Jasi, Bugbug dan akhirnya di T. Unda. Mengingat daerah utara terletak dalam bayangan hujan, laharnya bukan bayangan daripada endapan lepas, yang sebenarnya maksimal jatuh di sebelah sini.

Aliran Lava

Lava yang meleler antara 19 Pebruari dan 17 Maret 1963 mengalir dari kawah utama di puncak ke utara, lewat tepi kawah yang paling rendah, berhenti pada garis ketinggian 505,64 m dan mencapai jarak lk. 7.290 m. Isi lava tersebut ditaksir sebanyak lk. 339,235 juta m3.

Bahan Lepas

Terdiri dari bom gunungapi, lapili, pasir dan abu, baik berasal dari awan panas letusan maupun dari ledakan kawah pusat.

Awan Panas G. Agung

Di G. Agung terdapat dua macam awan panas, yakni awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi pada waktu ada letusan besar. Pada waktu itu maka bagian bawah dari tiang letusan yang jenuh dengan bahan gunungapi melampaui tepi kawah dan meluncur ke bawah. Bergeraknya melalui bagian yang rendah di tepi kawah, ialah lurah dan selanjutnya mengikuti sungai. Kecepatan dari awan letusan ini menurut pengamatan dari Pos Rendang adalah rata-rata 60 km per jam dan di sebelah selatan mencapai jarak paling jauh 13 km, yakni di T. Luah dan di sebelah utara 14 km di T. Daya.

Menurut Suryo (1964) selanjutnya, awan panas guguran adalah awan panas yang sering meluncur dari bawah puncak (tepi kawah). walaupun tidak ada letusan dapat terjadi awan panas guguran. Dapat pula terjadi apabila terjadi bagian dari aliran lava yang masih panas gugur, seperti terjadi pada waktu lava meleler di lereng utara.

Daerah yang terserang awan panas letusan pada kegiatan 1963 terbatas pada lereng selatan dan utara saja, karena baik di barat maupun di sebelah timur kawah ada sebuah punggung.Kedua punggung ini memanjang dari barat ke timur. Awan panas letusan yang melampaui tepi kawah bagian timur dipecah oleh punggung menjadi dua jurusan ialah timur laut dan tenggara. Demikian awan panas di sebelah barat dipecah oleh punggung barat ke jurusan baratdaya dan utara. Awan panas letusan yang terjadi selama kegiatan 1963 telah melanda tanah seluas lk.70km2 dan menyebabkan jatuh 863 korban manusia.

GEOLOGI


Morfologi

A. Nasution dan kawan-kawan (1989) membagi morfologi G. Agung menjadi 4 satuan, yaitu :

1. Satuan morfologi kerucut gunungapi

2. Satuan morfologi parasit gunungapi

3. Satuan morfologi perbukitan bergelombang

4. Satuan morfologi dataran

Satuan morfologi kerucut gunungapi

Satuan ini merupakan tubuh dari Gunung Agung. Bentuk morfologi ini hampir simetri dengan ketinggian 3014 m dpl, lerengnya relatif terjal. Pola alirannya berbentuk huruf V, mencerminkan relatif kasar, sedangkan bagian puncak berelief halus.

Satuan morfologi ini dibentuk oleh bahan piroklastik dan lava, bagian puncak ditutupi oleh bahan lepas yang cukup tebal, terutama piroklastik jatuhan hasil letusan tahun 1963.

Satuan morfologi Parasit Gunungapi

Satuan ini terdapat pada lereng tenggara, membentuk kerucut-kerucut gunungapi (cone shape), diantaranya G. Pawon (800 m dpl). Beberapa kerucut pada bagian timur G. Agung, diduga bukan merupakan parasit dari G. Agung.

Bahan pembentuksatuan morfologi ini terdiri dari lava dan bahan lepas berupa skoria atau “cinder”.

Satuan perbukitan bergelombang

Satuan ini berbentuk perbukitan sisa erosi, dan terdapat pada kaki bagian timur dan selatan. Puncak relatif landai dengan ketinggian antara 100 s/d 400 m dpl. Bahan pembentuknya terdiri dari produk tua Gunung Batur yang umumnya terdapat pada bagian lembah, dan kemudian ditutupi oleh hasil erupsi dari G. Agung. Morfologi ini terdapat pada bagian selatan. Pada bagian timur G. Agung, satuan morfologi ini didasari oleh hasil erupsi G. Seraya dan Formasi Ulakan, yang juga pada bagian atasnya ditutupi oleh hasil erupsi G. Agung.

Satuan morfologi dataran

Bila dilihat keadaan topografinya, bukan merupakan daerah dataran, tetapi sedikit melandai dan mempunyai ketinggian maksimum 75 meter dari permukaan laut. Satuan ini terdapat di Kubu, Tanjung Muntik, dan Bayadewa. Bahan pembentuk morfologi ini didominasi oleh lahar dan piroklastik baik dari G. Agung, Batur dan dari G. Seraya.

Stratigrafi

Penentuan stratigrafi didasarkan pada tingkat kesegaran batuan serta hubungan antara satuan batuan. Posisi stratigrafi dari produk yang tertua sampai dengan termuda dapat diuraikan sebagai berikut:

Kelompok batuan vulkanik tua

Formasi Ulakan (Uvs)

Formasi ini tersingkap di bagian selatan dan tenggara Gunung Agung, merupakan suatu perbukitan tua bergelombang, terdiri dari batu gamping koral, lava dan breksi vulkanik. Batuan ini diperkirakan Andesit basaltis.

Kelompok batuan Kondangdia (Kv)

Kelompok batuan ini terdapat pada bagian timur daerah penyelidikan, membentuk lereng dari aktifitas tua yang diduga bersumber tidak jauh dari lokasi singkapan. Singkapannya memperlihatkan suatu aliran lava tua dengan struktur "sheeting joint", agak lapuk. Dari keadaan singkapan dan tingkat pelapukannya diperkirakan kedudukannya kelompok batuan ini lebih muda dari kelompok batuan formasi Ulakan.

Kelompok Batuan Budakeling (Bv)

Kelompok batuan ini terdapat di bagian tenggara Gunung Agung yaitu di daerah Budakeling dan merupakan bukit-bukit soliter yang berbentuk tapal kuda. Kelompok ini terdiri dari lava dan breksi vulkanik dengan fragmen-fragmen batuan beku yang beraneka ragam. Ukuran fragmen dari kerikil sampai bongkah dengan bentuk komponen menyudut, tertanam di dalam masa dasar pasiran. Sebagian dari batuan tersebut telah mengalami proses pelapukan.

Kelompok Batuan Cemara (Cv)

Kelompok ini terdapat pada bagian selatan, berbentuk agak membulat dan menonjol diantara hasil erupsi Gunung Agung, ketinggian mencapai 1063 m dari permukaan laut. Singkapan terlihat berupa lava dan batuan piroklastik. Nama batuan ini diduga basalt.

Kelompok Batuan Tabis (Tv)

Terletak di sebelah barat Gunung Agung, merupakan bukit sisa gunungapi tua yang dibentuk oleh lava dan piroklastik.

Kelompok Batuan Vulkanik Batur (BAv)

Kelompok ini terdapat pada bagian barat G. Agung dan merupakan hasil erupsi G. Batur tua. Ia berbatasan dengan produk dari G. Agung di sepanjang Tukad Daya (di utara) dan Tukad Latang (di selatan).

Hasil Erupsi G. Agung

Lava Agung 1 (A1 1)

Satuan batuan ini adalah hasil erupsi G. Agung yang tertua, berupa aliran lava masif, berwarna abu-abu gelap, “vesikuler”, tersingkap baik di hulu Tukad Besumik dan merupakan dasar dari sungai ini. Nama batuan : Andesit piroksin.

Lava Agung 2 (A1 2)

Penyebarannya terbatas pada dasar-dasar sungai di daerah desa Tumukus pada ketinggian di atas 1000 meter di atas permukaan laut. Nama batuan diduga olivin basalt.

Lava Agung 3 (A1 3)

Satuan batuan ini membentuk punggungan memanjang di atas Desa Blong, Bonyoh dan hulu Tukad Kidang.

Aliran Piroklastik 1 (Aap 1)

Sebarannya terbatas pada lereng utara membentuk suatu punggungan yang memanjang. Singkapan yang dijumpai pada Tukad Bokeng, mempunyai ketebalan lebih dari 10 meter, berwarna abu-abu gelap sampai kecoklatan, mudah gugur, fragmen berukuran pasir - kerakal, makin ke atas fragmen-fragmennya makin mengecil, kemas mengambang, menyudut tanggung, tersusun oleh fragmen magmatis dan litik. satuan batuan ini ditutupi oleh Lava Agung 3 (A1 3).

Lava Agung 4 (A1 4)

Sebarannya terdapat di bagian utara G. Agung, yaitu di sekitar Kampung Prasan, Pucang dan sepanjang aliran Tukad Daya pada ketinggian 40 m dari permukaan laut. Ia membentuk punggungan yang memanjang dan berbatasan dengan produk Gunung Batur Tua. Nama batuan Andesit piroksin.

Lava Agung 5 (A1 5)

Sebarannya terdapat di bagian timur daerah penelitian, tersingkap di sepanjang dasar Tukad Celagi pada ketinggian antara 100 meter hingga 800 meter dpl. Nama batuan basalt.

Lava Agung 6 (A1 6)

Sebarannya terdapat di bagian timur G. Agung, tersingkap di tepi jalan raya sebelah utara Desa Abadi dan di Tukad Lenceng, Desa Kesimpar (lebih kurang 5 km dari Desa Abang). Nama batuan Basalt dengan tingkat kesegaran yang cukup baik.

Lava Agung 7 (A1 7)

Sebarannya terdapat di sebelah barat Tukad Sangkandadi pada ketinggian 700 meter hingga 1500 meter dpl, membentuk suatu punggungan yang memanjang dan sebagian besar sudah tertutup oleh produk yang lebih muda.

Lava Agung 8 (A1 8)

Sebarannya terbatas, yaitu hanya di bagian timur G. Agung, di daerah Tukad Klatad pada ketinggian 900 meter hingga 2000 meter dpl.

Lava Pawon (P1)

Satuan batuan Lava Pawon tersingkap pada dinding sebelah barat Gunung Pawon. Satuan batuan ini diduga muncul sebagai parasit G. Agung.

Aliran Piroklastik 2 (Aap 2)

Sebarannya meliputi bagian tenggara, yaitu di daerah Pidpid (Tukad Kelenceng), Kesimpar (sebelah utara bukitPawon) dan daerah Nangka I (Tukad Pangadingah), Linggasana (sebelah barat bukit Pawon).

Satuan batuan ini dibentuk oleh material magmatis (60%) dan litik (40%).

Skoria Pawon (Psk)

Satuan batuan membentuk suatu kerucut yang terletak di bagian tenggara Gunung Agung pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Penyusun tubuh kerucut terdiri dari skoria (basaltic scoria).

Lava Agung 9 (A1 9)

Sebarannya di bagian selatan G. Agung, yaitu di Tukad Kerukuk dan di bagian timur, yaitu di hulu Tukad Klenceng. Nama batuan Andesit piroksin.

Aliran Piroklastik 3 (Aap 3)

Penyebarannya di Kesimpar, Puto, dan Telung Buana. Singkapan terbaik dijumpai di tebing Tukad Dusuh daerah Sebudi bawah.

Lava Agung 10 (A1 10)

Sebarannya terbatas pada dasar sungai, di Tukad Iseh, hulu Tukad Langon dan Tukad Sabu, pada ketinggian di atas 1000 meter di permukaan laut. Nama batuan andesit basaltis.

Aliran Piroklastik 4 (Aap 4)

Penyebarannya di timur laut G. Agung, yaitu di daerah Batudawa, Batudulu. Satuan batuan ini dibentuk oleh material magmatis (60 %) dan litik (40 %).

Lava Agung 11 (A1 11)

Sebarannya di timur laut G. Agung membentuk kipas dan berakhir di laut (Selat Lombok), meliputi daerah Munting dan Tulamben. Nama batuan Andesit piroksin.

Lava Agung 12 (A1 12)

Sebarannya di timur laut G. Agung , yaitu di daerah Tulamben. Di utara penyebarannya terbatas pada Tukad Moong, sedang di bagian selatan dibatasi oleh Tukad Lamben. Posisi stratigrafi terletak di atas satuan Lava Agung 9.

Aliran Piroklastik 5 (Aap 5)

Penyebarannya di bagian utara G. Agung, yaitu di daerah Selagading, Bantas, Juntal dan Bangkelan.

Lahar 1 (Alh 1)

Penyebarannya di bagian selatan G. Agung, terutama di daerah Selat dan Bebandem. Endapan diduga merupakan lahar yang cukup tua.

Lava Agung 13 (A1 13)

Sebarannya memanjang dari puncak ke arah utara dan berhenti pada ketinggian 550 meter di atas permukaan laut, yaitu pada bagian hulu Tukad Linggah dan Tukad Gamongan. Nama batuan basalt.

Jatuhan Piroklstik 1 (Ajp 1)

Sebarannya di bagian barat daya Gunung Agung, yaitu di Tukad Iseh. Singkapan berupa abu, sedikit pumice, skoria dan fragmen litik.

Lahar 2 (Alh 2)

Sebarannya di bagian timur laut Gunung Agung membentuk punggungan dan berakhir di laut. Singkapan berupa pasir sampai kerakal dengan beberapa blok-blok lava, kemas terbuka, fragmen menyudut hingga menyudut tanggung.

Lava Agung 14 (A1 14)

Sebarannya di bagian utara puncak Gunung Agung, hasil aktifitas G. Agung tahun 1963. Nama batuan basalt.

Aliran Piroklastik 6 (Aap 6)

Penyebarannya di bagian selatan G. Agung, sedikit di bagian timur dan menipis di bagian utara. satuan batuan ini hasil aktifitas G. Agung tahun 1963.

Jatuhan Piroklstik 2 (Ajp 2)

Sebarannya tebal di bagian barat dan selatan puncak Gunung Agung, sebagai hasil aktifitas G. Agung tahun 1963. Singkapan terdiri dari fragmen skoria, dan litik berukuran abu sampai kerikil.

Lahar 3 (Alh 3)

Sebarannya hampir seluruh sungai-sungai yang berhulu pada Gunung Agung, pada ketinggian 700 - 800 meter di atas permukaan laut. Batuan penyusun lahar berupa pasir, abu, fragmen skoria, litik dan lumpur.

Aluvial (A1)

Sebaran di pesisir utara G. Agung. Endapan berupa pasir, kerikil, kerakal dan endapan halus lainnya.

Pola Struktur

Komplek G. Agung - Abang - Batur - Budakeling menunjukkan suatu kelurusan berarah barat laut - tenggara. Sungai Tukad Daya - Tukad lateng menunjukkan suatu kelurusan yang memotong sebagian bukit Tabis yang terdapat di bagian tengahnya.

Pada bagian selatan - tenggara Gunung Agung memperlihatkan alihan pematang punggungan yang diduga akan terbentuk rekahan geser menganan.

GEOFISIKA


Seismik

Berdasarkan hasil pengamatan seismik diketahui bahwa jumlah gempa vulkanik yang terekam oleh seismograf bervariasi antara 2 hingga 20 kejadian per bulan. Disamping gempa vulkanik terekam pula gempa tektonik dengan jumlah antara 10 hingga 200 kejadian per bulan, kecuali pada Juni 1994 terekam 400 kejadian.

Dari hasil pengamatan seismik dengan multistasiun pada periode tahun 2000 -2002, memperlihatkan sebaran episenter berada di luar kawah (puncak) G. Agung dengan kedalaman 10 - 70 km di atas muka laut (Sulaeman, 2002). Beberapa episenter membentuk kelurusan berarah timur laut – barat daya. Gempa-gempa tersebut diduga sebagai gempa tektonik akibat aktifitas struktur di daerah tersebut.

Potensial Diri

Penyelidikan potensial diri dilakukan pada tahun 1993, oleh sebuah tim Direktorat Vulkanologi yang dipimpin oleh Sjafra Dwipa. Lintasan pengukuran berjumlah 4 buah, dengan profil harga self potensial (SP) sebagai berikut:

· lintasan Pasar Agung - sekitar puncak bagian selatan (A-B), menunjukkan terdapat anomali yang lebar dengan harga S-P relatif rendah di lereng dan anomali positif dengan harga SP tertinggi di puncak.

· lintasan sekitar puncak bagian barat - Temukus (C-D), menunjukkan bentuk anomali menurun tajam ke arah puncak.

· lintasan sekitar puncak bagian timur - Tanah Aron (E-F), menunjukkan terdapat korelasi antara nilai SP dengan elivasi.

· lintasan Kedampal - sekitar puncak bagian selatan, menunjukkan terdapat hubungan terbalik antara nilai SP dengan elivasi.

GEOKIMIA


Jenis Batuan

Batuan basalt dan andesit baslatis merupakan pembentuk utama lava G. Agung (Mawardi, 1990 dan Eka Kadarsetia 1993). Ringkasan informasi mineralogi dan petrografi diperlihatkan pada Tabel 9.

Hasil analisis contoh aliran lava tahun 1963 menunjukkan lava tersebut sebagai andesit agak basaltik dengan kandungan An 38 – An55, hypersten dan augit. (W.S. Modjo 1963 dalam Kusunadinata 1979). Sebuah bom 1963 adalah andesit yang mengandung kwarsa dengan augit sebagai piroksen sedang bom kerak roti lama terdiri dari andesit piroksin vitrifir. Hasil analisis kimia batuan diperlihatkan pada Tabel 10.

Tabel 9. Ringkasan petrografi dan mineralogy dari beberapa contoh sayatan G. Agung

contoh

batuan

fenokris

masa dasar

catatan

Ag.2

Ag.5

Ag.11

Ag.15

Ag.20

Ag.32A

Ag.32B

Ag.33

Basalt

andesit-basalt

basalt

basalt

andesit

basalt

basalt

basalt

Plg (An48-An55), beberapa inklusi:cpx, olivin,mineral opaque

Plg (An44-An50), opx, cpx, mineral opaque

Plg (An50), cpx, olivin

Plg, teralterasi, olivin

Plg (An40-An45), teralterasi, cpx, opx

Plg (An42-An45), cpx, opx

Plg, teralterasi, cpx (subhedral)

plg (An45-An50), cpx, olivin

Mikrokristalin:mikrolit plg

Mikro-hipokristalin:mikrolit plg

Mikrokristalin:mikrolit plg

Mikrokristalin:mikrolit plg

Mikrokristalin:mikrolit plg, min. opaque

Mikrokristalin:mikrolit plg, min. opaque

Mikrokristalin:(gelap) mikrolit plg

Mikrokristalin:mikrolit plg, min. opaque

aliran lava

lava G. Pawon

lava G. Cemara

lava shetting

aliran lava

lava puncak

lava puncak

Tabel 10. Hasil analisis kimia batuan G. Agung

Pasir (Tampak Siring) (%)

Lapili (Besakih) 253-63 (%)

Abu (Batuniti) 27-3-63 (%)

Bom lava (Batuniti) (%)

Abu (rending) 13-3-63 (%)

Lapili Batuapung (Rendang) 17-3-63

(%)

1

2

3

4

5

6

7

SiO2

Fe2O3

Al2O3

CaO

MgO

MnO

TiO2

P2O5

S(total)

Na2O

K2O

H2O

Hilang dibakar

FeO

53,68

9,42

21,53

8,10

4,47

0,25

0,94

0,11

0,35

0,31

0,01

0,23

0,60

50,78

10,72

20,11

8,39

4,11

1,98

0,94

0,07

0,72

0,46

0,05

0,13

0,90

50,99

8,77

20,11

7,88

3,44

0,12

1,02

0,11

3,51

0,28

0,01

2,45

0,96

50,54

10,98

19,86

8,62

5,58

1,98

1,05

0,04

0,61

0,22

0,01

0,27

0,90

55,00

5,28

19,85

7,27

2,90

0,13

0,93

0,05

1,27

1,50

0,25

1,00

4,22

2,45

53,25

4,99

18,81

8,01

4,64

0,18

0,95

0,03

0,21

2,04

1,49

0,14

0,85

4,65

53,70

4,58

16,69

8,27

4,90

0,20

0,95

0,08

0,17

2,33

1,55

0,41

1,02

5,82

Lapili

(Rendang)

17-3-73

(%)

Endapan awan panas (Yeshas) 14-4-63

(%)

Ladu (Yeshas)

15-4-63

(%)

Melanik Porfir lapili (rendang) 17-3-73 (%)

8

9

10

11

12

SiO2

Fe2O3

Al2O3

CaO

MgO

MnO

TiO2

P2O5

S(total)

Na2O

K2O

H2O

Hilang dibakar

FeO

54,43

3,79

19,04

8,21

4,35

0,18

1,06

0,03

0,23

1,76

1,07

0,38

1,29

4,63

54,10

5,16

18,39

8,10

4,17

0,20

1,06

0,09

0,15

1,83

0,82

0,43

1,13

5,08

48,30

6,05

18,39

7,58

3,26

0,12

1,00

0,09

3,60

1,07

0,35

2,98

12,40

1,48

48,65

5,90

17,56

7,66

3,26

0,13

1,06

0,07

3,25

1,60

0,35

3,55

12,00

1,81

54,70

5,36

17,81

7,96

5,43

0,20

1,00

0,03

0,17

1,69

0,41

0,64

1,20

4,44

lapili leukokritik

(Rendang)

17-3-63

(%)

Batu apung leukokritik

(Rendang)

17-3-63

(%)

Lapili (Batulompeh)

16-5-63

(%)

Lapili

(Rendang)

29-5-63

(%)

13

14

15

16

SiO2

Fe2O3

Al2O3

CaO

MgO

MnO

TiO2

P2O5

S(total)

Na2O

K2O

H2O

Hilang dibakar

FeO

58,85

4,47

18,88

6,97

2,68

0,18

0,68

0,10

0,16

1,50

0,78

0,86

1,46

3,28

56,40

4,72

18,40

7,66

3,98

0,19

0,87

0,04

0,17

1,50

0,78

0,67

1,20

4,11

52,70

8,86

19,44

8,04

4,17

0,14

0,95

0,08

1,29

1,77

1,40

1,20

2,62

-

53,45

9,94

19,65

8,91

5,29

0,22

0,95

0,01

0,03

0,90

0,42

0,21

0,30

-

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI


Sistem Pengamatan

G. Agung memiliki 3 buah Pos Pengamatan Gunungapi (Pos PGA) yakni di Rendang, Budakeling dan Batulompeh. Pemantauan di Pos PGA Rendang dan Budakeling dilengkapi dengan metoda seismik disamping secara visual. Sedangkan di Batulompeh pengamatan hanya secara visual.

Dalam pengamatan seismik tersebut telah dioperasikan 8 stasiun gempa, masing-masing di G. Agung 4 buah dan di G. Batur 4 buah. Peta lokasi stasiun gempa diperlihatkan pada Gambar 1. Nama dan lokasi stasiun seismometer di G. Agung diperlihatkan pada Tabel 8. Sinyal seismik dalam bentuk analog dari masing-masing stasiun dipancarkan ke Pos Pengamatan Terpadu di Rendang dengan radio telemetri sistem. Kemudian sinyal analog tersebut diubah menjadi bentuk digital dan ditampilkan pada layar komputer (PC) memakai software ACQ. Pengolahan data seismik tersebut memakai software Sismalp.

Laporan kegiatan G. Agung disampaikan ke DVMBG melalui radio SSB dan surat. Dalam kondisi normal pelaporan kegiatan G. Agung ke DVMBG dilakukan melalui radio SSB dua kali sehari dan satu bulan sekali melalui surat.

Kawasan Rawan Bencana G. Agung

Kawasan Rawan Bencana G. Agung terdiri dari 2 bagian, yaitu Kawasan Rawan Bencana I (KRB I)dan Kawasan Rawan Bencana II (KRB II).

KRB II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, lontaran batu (pijar), hujan abu (lebat), dan aliran lava. Khusus di dalam kawah ancaman juga berupa gas beracun . Untuk bahaya yang bersifat aliran, KRB II ini mencakup seluruh lereng utara sampai ke pantai Laut Bali, lereng selatan dan tenggara hingga berjarak lk. 14 km dari puncak. Sedangkan bahaya lontaran batu (pijar) terbatas pada radius 6 km dari kawah pada sekeliling lerengnya. Luas seluruh KRB II ini adalah lk. 215 km2. Jumlah penduduk yang bermukim dalam kawasan ini sebanyak 35.886 jiwa.

KRB I adalah kawasan yang berpotensi terlanda aliran lahar hujan, banjir dan hujan abu lebat serta kemungkinan perluasan aliran awan panas dan lontaran batu (pijar) terutama jika letusannya semakin membesar. Derajat kerawanan KRB I ini lebih rendah dari KRB II. KRB I terhadap aliran massa terutama di sepanjang aliran sungai, yaitu Tk. Daya di kaki sebelah utara dan Tk. Batang di kaki sebelah timur. Di kaki tenggara aliran lahar mengancam kota Amlapura dan dataran Karangasem melalui Tk. Rilah, Tk. Lajang, Tk. Luah, Tk. Pangandingah, Tk. Krekuk, Tk. Bangka, Tk. Timbul, Tk. Bedih, Tk. Buhu, dan Tk. Jangga.

Sedangkan aliran lahar ke selatan melalui Tk. Telaga Waja, dan Tk. Unda mengancam kota Semarapura, Kabupaten Kelungkung. Kawasan rawan bencana hujan abu lebat dan kemungkinan lontaran batu (pijar) mempunyai radius 10 km dari kawah, tanpa memperhitungkan arah angin. Kawasan ini meliputi areal seluas 185 km2. Jumlah penduduk yang bermukim dalam kawasan ini sebanyak 77.815 jiwa.

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Agung hanya berlaku apabila:

1. Letusan terjadi di kawah pusat

2. Arah letusan tegak lurus tanpa memperhatikan arah angin

3. Tidak terjadi letusan pembentukan kaldera yang berakibat (kawah berdiameter 2 km).

DAFTAR PUSTAKA


· Deden Wahyudin, 2002, Laporan Pemetaan Bahan Galian Gunungapi Agung, Direktorat Vulkanologi

· Eka Kadarsetia, 1993, Penyelidikan Petrokimia , Direktorat Vulkanologi

· Kusumadinata, 1979, Dasar Gunungapi Indonesia, Direktorat Vulkanologi

· Mawardi dan wahyu Suherman, Penyelidikan Petrokimia G. Agung, 1990, Direktorat Vulkanologi

· Nasution, M. Hendrasto dan Dadi Mulyadi, 1989, laporan Pemetaan Geologi G. Agung, Direktorat Vulkanologi

· Rizal D. Erfan, Yana karyana, Tardin, Maemunah, Laporan Pengumpulan Bahan Informasi Kegunungapian G. Agung, Juni 1999, Direktrat Vulkanologi

· Sjafra Dwipa, Yusep Hidayat H., Saleh S., Samid, 1993, Pengukuran Potensial Diri G. Agung, Direktorat Vulkanologi

· S. Bronto, M. S. Santoso, A. Martono, Ato Djuhara, 1996, Laporan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Agung, Direktorat Vulkanologi

· Sulaeman c., 2001, Laporan Pengamatan G. Agung, Direktorat Vulkanologi

Dokumentasi Peta

1. Indek Peta Rupa Bumi (Bakosurtanal) No.

1707-842

1707-624

1707-622

1707-344

1807-431

1807-413

1807-411

1807-133

1807-414

1807-412